Ketegangan di Iran terus memanas seiring berlanjutnya gelombang protes nasional. Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, seraya memperingatkan Washington agar tidak mengulangi langkah militer yang dinilainya gagal dan kontraproduktif.
Pernyataan keras itu disampaikan Araghchi pada Rabu (waktu setempat), merespons wacana dukungan Amerika Serikat terhadap aksi demonstrasi di Iran. Ia merujuk langsung pada serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, yang terjadi dalam konflik singkat namun intens antara Iran dan Israel.
Iran: Teknologi dan Tekad Tak Bisa Dihancurkan Bom
Menjawab pertanyaan jurnalis Fox News terkait pesan untuk Presiden Trump, Araghchi menegaskan bahwa kekuatan Iran tidak bisa dilumpuhkan melalui serangan militer.
Ia menyatakan bahwa meski fasilitas dan mesin dapat dihancurkan, pengetahuan teknologi dan keteguhan bangsa Iran tidak dapat dibom atau dipatahkan dengan kekerasan.
“Pengalaman gagal akan selalu menghasilkan kegagalan yang sama,” tegas Araghchi, menandaskan bahwa pendekatan militer hanya memperpanjang konflik tanpa solusi nyata.
Iran Klaim Konsisten Buka Pintu Diplomasi
Lebih lanjut, Araghchi menegaskan bahwa Iran sejak lama memilih jalur diplomasi dan perundingan, bahkan selama dua dekade terakhir. Namun, menurutnya, Amerika Serikat justru berulang kali menarik diri dari dialog dan memilih eskalasi militer.
Ia menilai diplomasi tetap menjadi opsi terbaik dibandingkan perang, meski hingga kini Iran belum menerima respons positif dari Washington.
“Di antara perang dan diplomasi, jalan diplomasi selalu lebih baik,” ujarnya menegaskan posisi resmi Teheran.
Iran Laporkan AS ke PBB, Tuduh Campur Tangan dan Ancaman Militer
Di tengah meningkatnya perhatian internasional, Iran secara resmi mengajukan keberatan ke Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal PBB. Teheran menuding Amerika Serikat melakukan hasutan kekerasan, mencampuri urusan dalam negeri Iran, serta melontarkan ancaman militer terbuka.
Langkah tersebut disampaikan melalui surat resmi yang diedarkan Misi Tetap Iran untuk PBB, menandai eskalasi ketegangan di level diplomatik global.
Protes Memasuki Hari ke-20, Menyebar ke Ratusan Lokasi
Sementara itu, gelombang demonstrasi di Iran telah memasuki hari ke-20. Aksi yang awalnya dipicu inflasi tinggi dan anjloknya nilai mata uang nasional, kini berkembang menjadi ketidakpuasan luas terhadap kebijakan pemerintah.
Laporan menyebutkan bahwa lebih dari 280 titik di berbagai wilayah Iran terdampak unjuk rasa dan aksi massa.
Trump Klaim Kekerasan Berhenti, Eksekusi Masih Jadi Sorotan
Di Washington, Presiden Donald Trump mengklaim bahwa kekerasan di Iran mulai mereda dan tidak ada rencana eksekusi. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Namun laporan kelompok hak asasi manusia justru menyebut pemerintah Iran berencana mengeksekusi satu demonstran, di tengah penangkapan massal terhadap pengunjuk rasa anti-pemerintah, memicu kekhawatiran internasional baru.
Iran Kritik Kebijakan Global AS, Soroti Tarif dan Penarikan dari Lembaga Dunia
Di sisi lain, Kedutaan Besar Iran di India mengeluarkan pernyataan keras yang menyoroti kebijakan global Amerika Serikat, termasuk penerapan tarif yang dinilai tidak adil dan penarikan diri dari puluhan lembaga internasional.
Iran menilai langkah sepihak tersebut berpotensi meruntuhkan tatanan global dan akan berdampak pada seluruh negara, tanpa memandang ukuran maupun kekuatan ekonomi.
- Donald Trump Umumkan Kunjungan ke Arab Saudi, Bertemu Putin?
- Mengungkap Misteri: 10 Mata Uang Terendah di Dunia Tahun 2023
