Pemkab Boltara Resmi Buka Pasar Senggol Boroko 2026, Diharapkan Dongkrak Perputaran Ekonomi

Digelar di Lapangan Kembar Boroko selama 10 hari, Pasar Senggol hadirkan puluhan pedagang pakaian dan kuliner khas lok

Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara resmi membuka Pasar Senggol Boroko 2026 di Lapangan Kembar Boroko, Minggu (8/3/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk menggerakkan perekonomian masyarakat selama bulan Ramadan.

Pembukaan Pasar Senggol Boroko 2026 dilakukan oleh Sekretaris Daerah Boltara dr. Jusnan Mokoginta yang hadir mewakili pemerintah daerah. Acara tersebut turut dihadiri para asisten, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta Danramil 1303 Boroko.

Pasar senggol ini menjadi penyelenggaraan ketiga yang digelar di wilayah Boroko dalam beberapa tahun terakhir.

Pasar Senggol Boroko 2026 Berawal dari Gagasan Bupati Sirajudin Lasena

Sekretaris Daerah Boltara dr. Jusnan Mokoginta menjelaskan bahwa Pasar Senggol Boroko 2026 merupakan bagian dari gagasan Bupati Bolaang Mongondow Utara Dr. Sirajudin Lasena sejak tahun 2024.

Menurutnya, ide tersebut muncul sebagai respons terhadap aspirasi masyarakat yang menginginkan adanya pasar senggol di daerah.

“Pasar senggol ini merupakan inisiasi dari Pak Bupati Sirajudin Lasena pada tahun 2024. Gagasan ini muncul sebagai jawaban atas aspirasi masyarakat Boltara yang mendambakan adanya pasar senggol di daerah,” jelas Jusnan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah terus mendukung kegiatan ini karena mampu mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Pasar Senggol Boroko 2026 Jadi Ajang Penggerak Ekonomi Lokal

Sekretaris Daerah Boltara dr. Jusnan Mokoginta menegaskan bahwa pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Pasar Senggol Boroko 2026.

Menurutnya, kegiatan tersebut mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat serta memberikan peluang usaha bagi para pedagang lokal.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah daerah akan segera mencairkan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN agar perputaran ekonomi di masyarakat semakin meningkat.

“Insya Allah besok, 9 Maret, seluruh TPP pegawai negeri sipil akan dicairkan agar perputaran keuangan di masyarakat bisa berjalan,” ujar Jusnan Mokoginta.

Pemkab Akan Sosialisasikan Pasar Senggol Hingga ke Desa

Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara juga berencana memperluas sosialisasi Pasar Senggol Boroko 2026 hingga ke desa-desa.

Promosi Melalui Video Pendek

Sekda Boltara menyampaikan bahwa belum semua desa mengetahui keberadaan pasar senggol tersebut.

Karena itu, pemerintah daerah akan melibatkan Dinas Perdagangan serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) untuk mempromosikan kegiatan tersebut melalui video pendek.

Video tersebut nantinya akan disebarkan kepada para camat dan sangadi agar diteruskan kepada masyarakat di desa masing-masing.

“Kami akan menugaskan Dinas Perdagangan dan Diskominfo membuat video singkat untuk disebarkan ke camat dan sangadi agar masyarakat mengetahui kegiatan ini,” jelasnya.

Pasar Senggol Dibuka Selama 10 Hari

Sementara itu, Ketua Panitia Syamsudin Olli dalam laporannya menyampaikan bahwa Pasar Senggol Boroko 2026 akan berlangsung selama sepuluh hari.

Pasar tersebut dibuka mulai 8 Maret hingga 18 Maret 2026.

Panitia menyediakan sebanyak 85 lapak untuk para pedagang.

Namun pada malam pembukaan, baru sekitar 70 lapak yang telah terisi oleh para pedagang.

Didominasi Pedagang Lokal

Menurut panitia, sebagian besar pedagang yang mengikuti Pasar Senggol Boroko 2026 berasal dari daerah Bolaang Mongondow Utara.

Meski demikian, terdapat sekitar 12 lapak pedagang dari luar daerah yang turut meramaikan kegiatan tersebut.

Kehadiran pedagang dari berbagai daerah diharapkan mampu meningkatkan aktivitas perdagangan sekaligus menarik minat masyarakat untuk berbelanja di pasar senggol.

Pasar Senggol Diharapkan Jadi Agenda Tahunan

Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, pemerintah daerah berharap Pasar Senggol Boroko 2026 dapat terus diselenggarakan secara rutin.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi tempat berjualan bagi para pedagang, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial masyarakat selama bulan Ramadan.

Exit mobile version