Boltara, Waktu.news | Abrasi pantai Busisingo Utara di Kecamatan Sangkub, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, dilaporkan semakin parah dalam beberapa hari terakhir. Gelombang tinggi yang terus menghantam pesisir membuat air laut masuk hingga ke rumah-rumah warga, merendam persawahan, dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Kondisi ini memicu kecemasan warga karena kerusakan terus meluas dari garis pantai ke area permukiman dan lahan pertanian. Warga menilai situasi sekarang jauh lebih buruk dibanding sebelumnya.
Seorang warga setempat, Fajrin, mengatakan gelombang tinggi sudah berlangsung selama lima hari terakhir. Menurut dia, air laut kini tidak lagi hanya menghantam bibir pantai, tetapi sudah masuk ke area persawahan milik warga.
Ia menjelaskan, gelombang pasang paling sering terjadi saat air laut naik, yakni sekitar pukul 04.00 Wita dan 16.00 Wita, (19-3-2026). Pada waktu-waktu itu, ombak besar datang lebih kuat dan mempercepat abrasi pantai Busisingo Utara.
Situasi tersebut membuat warga harus terus waspada, terutama mereka yang tinggal dekat pesisir. Sebab, setiap kali gelombang datang, air laut makin mudah menjangkau daratan.
Warga juga melihat dampak kerusakan pesisir Busisingo Utara semakin nyata. Sejumlah pohon kelapa yang sebelumnya berdiri kokoh kini mulai roboh satu per satu karena akarnya tidak lagi mampu menahan tanah yang terus tergerus ombak.
Kerusakan ini memperlihatkan bahwa abrasi pantai Busisingo Utara bukan lagi ancaman kecil. Pantai yang dahulu menjadi pelindung alami desa kini terus terkikis, sementara daratan perlahan hilang dihantam gelombang.
Beberapa warga yang berada di lokasi meminta perhatian serius dari Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, serta instansi terkait. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan kawasan pesisir dan melindungi masyarakat Busisingo Utara.
Sangadi Busisingo Utara, Syahrir Hassan, menegaskan bahwa abrasi yang terjadi belakangan ini merupakan salah satu yang paling parah. Ia menyebut air laut sudah mencapai permukiman warga dan menyebabkan sawah-sawah milik masyarakat mengalami gagal panen.
Menurut Syahrir, dampak abrasi tidak hanya merusak sektor pertanian, tetapi juga mulai mengganggu kehidupan sosial dan keagamaan warga. Masjid di desa tersebut ikut terendam, sehingga aktivitas ibadah masyarakat, khususnya warga Muslim, ikut terganggu.
Syahrir mengakui kondisi itu membuat warga merasa cemas dan takut. Mereka khawatir abrasi pantai Busisingo Utara akan terus membesar jika tidak segera ditangani.
Ia menekankan bahwa penanganan cepat sangat dibutuhkan agar kerusakan tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat setempat.
Masyarakat Busisingo Utara berharap pemerintah provinsi maupun pihak terkait segera menindaklanjuti keluhan yang sudah mereka sampaikan. Mereka tidak ingin abrasi pantai Sulawesi Utara ini terus dibiarkan sampai merusak lebih banyak rumah, lahan pertanian, dan fasilitas umum.
Warga meminta solusi nyata, mulai dari penanganan darurat hingga upaya perlindungan pesisir jangka panjang. Mereka menilai langkah cepat sangat penting untuk menahan laju abrasi pantai Busisingo Utara dan menjaga keselamatan warga yang tinggal di kawasan terdampak.
Tanpa intervensi segera, ancaman air laut rendam rumah warga dan rusaknya lahan pertanian diperkirakan akan terus berulang setiap kali gelombang pasang datang.
- Kampung Tangguh Busisingo Solusi Memutus Mata Rantai Covid-19
- Sambut Bulan Suci Ramadhan 1442 H, Desa Busisingo Kerja Bakti Massal
- Bupati Boltara Temui BWS Sulawesi I, Bahas Penanganan Abrasi Pantai dan Sungai
