Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin!

DaerahSulteng

Data Bayi Lahir, BBLR, dan Gizi Kurang Sulawesi Tengah 2025: Donggala Catat Angka Tertinggi

17.332 Bayi Lahir, 1.299 Kasus BBLR, dan 11.857 Kasus Gizi Kurang Tercatat Sepanjang 2025

Bayi lahir BBLR gizi kurang Sulawesi Tengah 2025 mencatat total 17.332 kelahiran, 1.299 kasus berat bayi lahir rendah, dan 11.857 kasus gizi kurang di seluruh kabupaten dan kota. Data kesehatan bayi Sulteng ini bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah yang termuat dalam Tabel 4.2.7 publikasi BPS Sulteng 2025. Donggala memimpin jumlah kelahiran dengan 3.059 bayi sekaligus mencatat gizi kurang bayi Sulteng 2025 tertinggi dengan 3.093 kasus. Dengan demikian, Donggala menjadi daerah prioritas penanganan gizi dan kesehatan ibu anak di Sulawesi Tengah.

Parigi Moutong menempati posisi kedua kelahiran dengan 3.212 bayi, tertinggi di antara semua kabupaten sepanjang 2025. Selain itu, kabupaten ini mencatat 184 kasus BBLR dan 1.574 kasus gizi kurang yang sama-sama termasuk angka signifikan. Morowali menyusul dengan 1.788 kelahiran, 68 kasus BBLR, dan 792 kasus gizi kurang. Oleh karena itu, tiga kabupaten ini bersama-sama menjadi penyumbang terbesar kasus BBLR Sulawesi Tengah dan gizi kurang di provinsi ini.

Advertisement

Banggai Kepulauan Catat BBLR Tertinggi, Sigi Dominasi Gizi Kurang di Luar Donggala

Kasus BBLR kabupaten Sulteng 2025 menempatkan Banggai Kepulauan sebagai daerah dengan rasio BBLR tertinggi relatif terhadap jumlah kelahiran. Dari 356 bayi lahir, 108 di antaranya tercatat sebagai BBLR, menghasilkan rasio 30,3 persen yang sangat mengkhawatirkan. Sementara itu, Donggala mencatat 314 kasus BBLR dari 3.059 kelahiran, menjadikannya daerah dengan angka absolut BBLR tertinggi. Selanjutnya, Parigi Moutong dengan 184 kasus BBLR dan Buol dengan 179 kasus melengkapi daftar daerah dengan beban BBLR tertinggi.

Berat bayi lahir rendah Sulteng terendah justru tercatat di Kabupaten Banggai dengan hanya 2 kasus dari 1.044 kelahiran, rasio hampir nol persen. Tolitoli juga mencatat angka BBLR rendah dengan 24 kasus dari 1.235 kelahiran, jauh di bawah rata-rata provinsi. Namun demikian, kedua kabupaten ini tetap mencatat kasus gizi kurang yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, BBLR rendah tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi gizi yang baik di suatu daerah.

Advertisement

Sigi mencatat 1.022 kelahiran dengan 96 kasus BBLR dan 1.229 kasus gizi kurang bayi Sulteng, angka yang sangat tinggi relatif terhadap jumlah kelahirannya. Rasio gizi kurang terhadap kelahiran di Sigi mencapai 120 persen, artinya kasus gizi kurang melampaui jumlah bayi lahir tahun ini. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kasus gizi kurang di Sigi juga mencakup anak yang lahir sebelum 2025. Selain itu, angka gizi buruk bayi Sulawesi Tengah di Sigi menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan di seluruh provinsi.

Kota Palu dan Morowali Utara Catat Angka Terendah, Provinsi Butuh Intervensi Gizi Terpadu

Statistik kelahiran Sulawesi Tengah menempatkan Kota Palu sebagai satu-satunya kota yang tercatat dalam data ini dengan 1.218 kelahiran. Palu mencatat 50 kasus BBLR dan 743 kasus gizi kurang, angka yang relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah kabupaten. Selain itu, Morowali Utara mencatat 717 kelahiran dengan 39 kasus BBLR terendah kedua dan 693 kasus gizi kurang. Dengan demikian, dua wilayah ini menunjukkan kinerja kesehatan bayi yang lebih baik dibandingkan rata-rata provinsi.

Banggai Laut mencatat 739 kelahiran dengan 61 kasus BBLR dan 253 kasus gizi kurang, terendah secara absolut untuk gizi kurang. Tojo Una-Una mencatat 1.206 kelahiran, 109 kasus BBLR, dan 936 kasus gizi kurang dalam periode yang sama. Namun demikian, data BBLR kabupaten Sulteng 2025 secara keseluruhan menunjukkan bahwa hampir semua kabupaten masih menanggung beban gizi kurang yang berat. Oleh karena itu, program intervensi gizi terpadu lintas kabupaten menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi.

Kasus malnutrisi bayi Sulteng secara provinsi mencapai 11.857 kasus, angka yang jauh melampaui jumlah total kelahiran di banyak kabupaten secara individual. Total 1.299 kasus BBLR dari 17.332 kelahiran menghasilkan rasio BBLR provinsi sebesar 7,5 persen. Selanjutnya, rasio gizi kurang terhadap kelahiran mencapai 68,4 persen di tingkat provinsi, angka yang sangat tinggi dan membutuhkan perhatian serius. Akhirnya, bayi lahir BBLR gizi kurang Sulawesi Tengah 2025 ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk memperkuat program kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh.

Advertisement

Catatan Redaksi: Sumber data primer berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.

Advertisement

Refli Hertanto Puasa

Jurnalis waktu.news yang aktif meliput berita daerah Sulawesi Utara, Travel, politik, dan Olahraga. Aktif di dunia blogging sejak 2003 dan jurnalisme sejak 2010. Anggota SPRI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button