
Data penyakit Sulawesi Utara 2024–2025 yang dirilis Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulut mencatat penurunan cakupan pengobatan TBC Sulut dari 72 persen menjadi 67 persen. Namun demikian, angka keberhasilan pengobatan TBC justru naik dari 81 persen menjadi 82 persen secara provinsi. Selain itu, jumlah kasus AIDS Sulawesi Utara turun dari 899 kasus pada 2024 menjadi 799 kasus pada 2025. Data ini termuat dalam Tabel 4.2.6 Provinsi Sulawesi Utara Dalam Angka 2026 terbitan BPS.
Kotamobagu mencatat cakupan pengobatan TBC tertinggi pada 2025 dengan angka 142 persen, melampaui target nasional. Kepulauan Sangihe menyusul dengan cakupan 83 persen, naik signifikan dari 96 persen pada 2024. Sementara itu, Kepulauan Talaud mencatat cakupan terendah hanya 37 persen pada 2025, turun dari 33 persen tahun sebelumnya. Oleh karena itu, kesenjangan cakupan pengobatan TBC antardaerah di Sulawesi Utara masih terbilang lebar dan perlu perhatian serius.
Keberhasilan pengobatan TBC di Bolaang Mongondow Utara mencapai 120 persen pada 2025, angka tertinggi di seluruh kabupaten/kota. Bolaang Mongondow Timur juga mencatat angka tinggi sebesar 118 persen, naik dari 81 persen pada 2024. Selanjutnya, Minahasa mencatat penurunan keberhasilan pengobatan dari 83 persen menjadi 72 persen pada 2025. Penurunan ini menjadi catatan penting bagi Dinas Kesehatan Minahasa dalam evaluasi program penyakit menular Sulawesi Utara.
Kasus AIDS Sulut Turun 11 Persen, Manado Tetap Dominasi dengan 475 Kasus Baru
AIDS Sulawesi Utara mencatat penurunan positif dari 899 kasus baru pada 2024 menjadi 799 kasus pada 2025. Penurunan ini setara 11 persen dan menjadi sinyal bahwa program pencegahan mulai menunjukkan hasil nyata. Namun demikian, Kota Manado tetap menyumbang kasus terbanyak dengan 475 kasus baru pada 2025, turun dari 512 pada 2024. Dengan demikian, Manado masih menjadi episentrum kasus penyakit menular Sulut yang memerlukan intervensi intensif dan berkelanjutan.
Bitung mencatat 85 kasus AIDS baru pada 2025, turun dari 112 pada tahun sebelumnya. Tomohon juga turun dari 87 menjadi 64 kasus baru dalam periode yang sama. Selain itu, Minahasa Utara mencatat 45 kasus baru pada 2025, naik dari 59 pada 2024 yang justru menjadi tren berlawanan. Oleh karena itu, Minahasa Utara perlu memperkuat program penyuluhan dan deteksi dini data TBC AIDS Sulawesi Utara di wilayahnya.
Di tingkat kabupaten, Minahasa mencatat penurunan drastis dari 41 menjadi 34 kasus AIDS baru. Kepulauan Talaud turun dari 28 menjadi 23 kasus, sementara Kepulauan Sangihe naik dari 5 menjadi 12 kasus. Selanjutnya, beberapa kabupaten seperti Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow Utara, dan Minahasa Tenggara mencatat kasus sangat rendah di bawah 5. Tren positif ini menunjukkan bahwa program statistik kesehatan Sulut 2025 di kabupaten kecil mulai membuahkan hasil yang menggembirakan.
Kasus Kusta Naik di Beberapa Daerah, Sitaro dan Minahasa Selatan Perlu Waspada
Angka kusta malaria Sulut menunjukkan tren beragam antardaerah pada 2024–2025. Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) mencatat angka penemuan kasus baru kusta tertinggi pada 2025 sebesar 44,02 per 100.000 penduduk, naik dari 42,60 pada 2024. Minahasa Selatan juga mencatat lonjakan tajam dari 3,75 menjadi 18,74 per 100.000 penduduk dalam setahun. Kenaikan ini menjadi sinyal waspada bagi program pengendalian kusta di kedua wilayah tersebut.
Bolaang Mongondow tetap mencatat angka kusta relatif tinggi sebesar 25,78 per 100.000 penduduk pada 2025. Sementara itu, Minahasa Utara turun dari 21,65 menjadi 10,42, menunjukkan keberhasilan deteksi dan pengobatan dini. Selain itu, Tomohon berhasil menekan angka kusta dari 7,92 menjadi 4,82 per 100.000 penduduk. Secara provinsi, laporan kesehatan daerah Sulawesi Utara mencatat angka kusta turun dari 16,88 menjadi 15,7 per 100.000 penduduk pada 2025.
Angka kesakitan malaria provinsi turun dari 0,49 menjadi 0,37 per 1.000 penduduk pada 2025. Kepulauan Sangihe yang sebelumnya mencatat angka tertinggi sebesar 2,98 berhasil menekannya menjadi 1,82 pada 2025. Selanjutnya, Kepulauan Talaud mempertahankan angka malaria yang relatif stabil di kisaran 0,35–0,36. Dengan demikian, program eliminasi malaria di Sulawesi Utara menunjukkan kemajuan yang nyata meski masih memerlukan kerja keras di daerah kepulauan.
DBD Sulut Turun Signifikan, Tomohon Tetap Catat Angka Tertinggi
Angka kesakitan DBD Sulut turun dari 1,70 menjadi 0,57 per 100.000 penduduk secara provinsi pada 2025, sebuah penurunan yang sangat signifikan. Tomohon mencatat angka DBD tertinggi di 2024 sebesar 4,42 namun berhasil menurunkannya menjadi 1,14 pada 2025. Selain itu, Bolaang Mongondow Timur mencatat 1,56 per 100.000 penduduk pada 2025, menjadi kabupaten dengan angka DBD tertinggi kedua. Oleh karena itu, program pemberantasan nyamuk dan pencegahan DBD di Tomohon dan Bolaang Mongondow Timur harus terus diperkuat.
Manado berhasil menekan angka DBD dari 2,62 menjadi 0,23 per 100.000 penduduk, penurunan paling tajam di antara kota-kota besar Sulut. Bitung juga turun dari 0,92 menjadi 0,30, sementara Kotamobagu turun dari 1,19 menjadi 0,71. Selanjutnya, Kepulauan Sitaro mencatat penurunan drastis dari 1,96 menjadi 0,15 per 100.000 penduduk. Tren positif ini membuktikan bahwa program data kesehatan penyakit menular Sulut memberikan dampak nyata terhadap pengendalian DBD di hampir semua wilayah.
Secara keseluruhan, data penyakit Sulawesi Utara 2024–2025 menunjukkan kemajuan dalam pengendalian beberapa penyakit menular utama. Namun demikian, kesenjangan antardaerah masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diatasi. Dinas Kesehatan Sulut perlu memperkuat pengawasan di wilayah dengan tren memburuk seperti Minahasa Selatan untuk kusta dan Minahasa Utara untuk AIDS. Dengan langkah yang tepat dan terukur, target eliminasi kasus TBC Sulut dan penyakit menular lainnya dapat tercapai lebih cepat.
- Korban Kekerasan Perempuan dan Anak Sulawesi Utara Melonjak 258 Persen pada 2025
- Masuk Peralihan Musim, Kemenkes Minta Dinkes Waspadai Lonjakan DBD Sebelum Terlambat