Marhaban Ya Ramadhan 1447 H / 2026

bLOG Waktu
Khazanah

Hilal Tidak Terlihat 17 Februari, Mayoritas Negara Muslim Berpotensi Istikmal

Perhitungan astronomi menunjukkan rukyat hilal hampir mustahil karena bulan terbenam lebih dulu dari matahari

Advertisement

Pusat Astronomi Internasional memprediksi hilal tidak terlihat pada Selasa, 17 Februari, di hampir seluruh negara Arab dan Islam. Perhitungan mereka menunjukkan posisi bulan terlalu rendah sehingga pengamatan langsung tidak mungkin dilakukan.

Tanggal tersebut bertepatan dengan 29 Syaaban di mayoritas negara, sementara Pakistan, Bangladesh, Iran, Maroko, dan Mauritania masih memasuki hari ke-28.

Advertisement

Temuan ini membuat banyak wilayah kemungkinan besar menyempurnakan bulan Syaaban menjadi 30 hari sebelum memulai bulan hijriah baru.

Bulan Terbenam Lebih Cepat dari Matahari

Kondisi Langit Membuat Rukyat Hilal Mustahil

Para astronom biasanya menghitung waktu terbenam berdasarkan bagian atas piringan bulan. Namun bulan kali ini justru turun lebih dulu dari matahari di banyak kota dunia.

Akibatnya, mereka memakai acuan bagian bawah piringan bulan – lokasi munculnya sabit muda – untuk memastikan peluang pengamatan.

Advertisement

Hasilnya jelas: rukyat hilal hampir mustahil.

Di beberapa kota besar:

  • Abu Dhabi: bulan terbenam 1 menit sebelum matahari
  • Riyadh: lebih cepat 37 detik
  • Doha, Manama, Kuwait: bulan tenggelam sesaat sebelum senja

Jika bulan lebih dulu berada di bawah ufuk, pengamat tidak mungkin melihat sabit tipis awal bulan.

Ibu Kota Arab Masih Tidak Memenuhi Syarat

Di wilayah lain seperti Kairo, Amman, dan Beirut, bulan memang terbenam beberapa menit setelah matahari. Namun ketinggiannya terlalu rendah dan cahaya senja terlalu kuat.

Advertisement

Artinya, secara teori maupun praktik, awal bulan hijriah belum bisa dipastikan melalui rukyat.

Hanya Satu Lokasi Berpeluang, Itu Pun Sulit

Para peneliti mencatat Honolulu di Amerika Serikat sebagai satu-satunya lokasi dengan peluang teknis pengamatan.
Namun pengamatan hanya mungkin menggunakan teleskop dan tetap sangat sulit dilakukan.

Faktor penentu visibilitas meliputi:

  • jarak sudut bulan terhadap matahari
  • ketinggian bulan saat matahari terbenam
  • ketebalan sabit bulan

Jika parameter ini tidak terpenuhi, hilal tidak akan terlihat oleh mata manusia.

Menunggu Keputusan Resmi Otoritas Agama

Temuan astronomi ini muncul menjelang sidang rukyat resmi di berbagai negara. Otoritas keagamaan akan tetap melakukan pengamatan dan rapat penetapan awal bulan Islam.

Meski begitu, berdasarkan data ilmiah saat ini, peluang melihat hilal sangat kecil sehingga banyak negara diperkirakan melakukan istikmal Syaaban menjadi 30 hari.

Advertisement

Advertisement

Refli Puasa

Aktif di dunia blogging sejak 2003 dan bergerak Aktif sebagai jurnalis sejak tahun 2010. "Mengamati, merespons, merekam dan menceritakan kisah" #DSAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button