
Palu, 29 Maret 2026 | Penyakit terbanyak Sulawesi Tengah 2025 didominasi oleh hipertensi esensial yang mencatat 30.711 kasus – menjadikannya penyakit dengan jumlah penderita tertinggi di provinsi ini. Data resmi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mengungkap total 104.997 kasus dari 10 jenis penyakit terbanyak sepanjang 2025 – sebuah angka yang menjadi cermin serius kondisi kesehatan masyarakat Sulawesi Tengah saat ini.
Hipertensi esensial atau tekanan darah tinggi primer memimpin daftar 10 penyakit terbanyak di Sulteng 2025 dengan selisih yang sangat jauh dibanding penyakit lainnya. Dari total 104.997 kasus, hipertensi menyumbang 30.711 kasus atau 29,2 persen – hampir sepertiga dari seluruh kasus yang tercatat.
Dominasi hipertensi ini bukan fenomena baru, namun angkanya yang terus membesar menjadi alarm serius. Pola hidup tidak sehat – konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, stres, dan kebiasaan merokok – menjadi pemicu utama yang mendorong lonjakan kasus darah tinggi di Sulawesi Tengah.
Hipertensi yang tidak tertangani berisiko memicu komplikasi fatal seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal – kondisi yang tidak hanya mengancam jiwa tetapi juga membebani sistem kesehatan daerah secara signifikan.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menempati posisi kedua dengan 19.181 kasus – menjadikannya penyakit menular dengan jumlah penderita terbanyak di Sulawesi Tengah pada 2025.
ISPA menyerang sistem pernapasan mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru – dan sangat rentan menjangkiti anak-anak, lansia, serta kelompok dengan imunitas rendah. Faktor kualitas udara, perubahan cuaca ekstrem, dan kepadatan pemukiman turut berkontribusi pada tingginya angka kasus ISPA Sulteng 2025 ini.
Dengan selisih 11.530 kasus dari hipertensi, ISPA masih menjadi penyakit menular yang paling dominan dan membutuhkan program pencegahan berbasis komunitas yang lebih masif.
Gastritis atau radang lambung menduduki peringkat ketiga dengan 14.283 kasus – angka yang mencerminkan pola makan masyarakat yang tidak teratur, konsumsi makanan pedas dan asam berlebih, serta stres yang memicu produksi asam lambung berlebihan.
Di posisi keempat, faringitis akut – peradangan pada tenggorokan – mencatat 9.302 kasus. Penyakit ini erat kaitannya dengan kondisi ISPA dan sering muncul sebagai gejala penyerta infeksi saluran pernapasan.
Influenza menempati peringkat kelima dengan 7.687 kasus – mengingatkan bahwa penyakit musiman ini masih menjadi beban kesehatan yang nyata bagi masyarakat Sulawesi Tengah.
Fakta mengkhawatirkan tersembunyi dalam data penyakit Sulawesi Tengah 2025 ini: diabetes mellitus muncul dalam dua kategori sekaligus di daftar 10 penyakit terbanyak.
Diabetes Mellitus Tipe 1 berada di peringkat keenam dengan 6.195 kasus, sementara Diabetes Mellitus Tipe 2 masuk di posisi kesepuluh dengan 4.180 kasus. Gabungan keduanya mencapai 10.375 kasus – menjadikan diabetes sebagai kelompok penyakit dengan total kasus terbesar kedua setelah hipertensi jika dihitung secara kombinasi.
Kemunculan dua tipe diabetes dalam satu daftar 10 besar ini memperkuat sinyal bahwa penyakit tidak menular berbasis gaya hidup telah menjadi tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi masyarakat Sulawesi Tengah saat ini.
Tiga penyakit lain melengkapi daftar 10 penyakit terbanyak di Sulteng 2025:
Dermatitis kontak alergi menempati peringkat ketujuh dengan 4.786 kasus – reaksi kulit akibat paparan zat pemicu alergi yang semakin umum ditemui di lingkungan kerja dan rumah tangga.
Dispepsia atau gangguan pencernaan berada di peringkat kedelapan dengan 4.385 kasus – kondisi yang erat kaitannya dengan gastritis dan pola makan tidak sehat yang mendominasi gaya hidup urban maupun pedesaan.
Rhinitis akut – peradangan selaput lendir hidung – mencatat 4.287 kasus di peringkat kesembilan, sering kali menjadi komplikasi dari ISPA dan faringitis yang tidak tertangani dengan baik.
Berikut daftar lengkap kasus penyakit terbanyak Sulteng 2025 berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi:
- Peringkat 1 – Hipertensi Esensial: 30.711 kasus (29,2% dari total).
- Peringkat 2 – ISPA: 19.181 kasus (18,3% dari total).
- Peringkat 3 – Gastritis: 14.283 kasus (13,6% dari total).
- Peringkat 4 – Faringitis Akut: 9.302 kasus (8,9% dari total).
- Peringkat 5 – Influenza: 7.687 kasus (7,3% dari total).
- Peringkat 6 – Diabetes Mellitus Tipe 1: 6.195 kasus (5,9% dari total).
- Peringkat 7 – Dermatitis Kontak Alergi: 4.786 kasus (4,6% dari total).
- Peringkat 8 – Dispepsia: 4.385 kasus (4,2% dari total).
- Peringkat 9 – Rhinitis Akut: 4.287 kasus (4,1% dari total).
- Peringkat 10 – Diabetes Mellitus Tipe 2: 4.180 kasus (4,0% dari total).
Total Sulawesi Tengah: 104.997 kasus.
Analisis mendalam terhadap data kesehatan Sulawesi Tengah 2025 mengungkap fakta yang tidak bisa diabaikan: tujuh dari sepuluh penyakit terbanyak merupakan penyakit tidak menular (PTM) yang dipicu atau diperparah oleh gaya hidup – meliputi hipertensi, gastritis, diabetes tipe 1 dan 2, dermatitis, dispepsia, dan rhinitis akut.
Hanya tiga penyakit – ISPA, faringitis akut, dan influenza – yang masuk dalam kategori penyakit menular. Dominasi PTM ini merupakan transisi epidemiologi yang sedang terjadi di Sulawesi Tengah – dari pola penyakit menular ke penyakit kronik berbasis gaya hidup yang memerlukan penanganan jangka panjang dan lebih mahal.
Data penyakit terbanyak Sulawesi Tengah 2025 ini menuntut pergeseran paradigma layanan kesehatan – dari yang selama ini berfokus pada pengobatan menuju pencegahan yang lebih agresif.
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah perlu memperkuat program deteksi dini hipertensi dan diabetes di seluruh Puskesmas, menggencarkan edukasi gizi dan pola hidup sehat hingga ke pelosok desa, serta mendorong masyarakat untuk rutin memeriksakan kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi komplikasi serius.
Dengan 104.997 kasus dari hanya 10 jenis penyakit dalam satu tahun, Sulawesi Tengah menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan respons sistemik, terkoordinasi, dan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan.
- Waspada! Hipertensi dan Infeksi Bakteri Kuasai Layanan Kesehatan RSUD Bolaang Mongondow Utara 2024–2025
- Lonjakan ISPA Bolmong 2025 Sentuh 5.579 Kasus
- Bahaya Tersembunyi di Balik Praktisnya Kopi Sachet