Jejak Awal Katolik di Bolaang Mongondow: Harmoni Iman di Dataran Tinggi Kotamobagu
Sejarah awal Katolik di Bolaang Mongondow memperlihatkan tumbuhnya komunitas kecil di tengah mayoritas Muslim, dengan peran penting Tuan Rombouts dan dukungan Raja Laurens Cornelis Manoppo yang mencerminkan kuatnya tradisi toleransi di tanah Mongondow.

Jejak sejarah Katolik Bolaang Mongondow mulai terlihat pada awal abad ke-20, ketika Kotamobagu berkembang menjadi pusat aktivitas baru di dataran tinggi Mongondow.
Pada masa itu, mayoritas masyarakat memeluk Islam. Namun seiring kedatangan para pendatang-termasuk pegawai pemerintahan kolonial dan pensiunan militer-sebuah komunitas Katolik kecil mulai terbentuk.
Komunitas tersebut berkembang secara bertahap dan membangun kehidupan rohani di tengah masyarakat yang beragam keyakinan.
Salah satu tokoh penting dalam perkembangan awal komunitas ini adalah Tuan Rombouts.
Dalam catatan sejarah Katolik Bolaang Mongondow, Tuan Rombouts dikenal sebagai figur perintis yang memiliki kontribusi besar dalam membangun komunitas Katolik di Kotamobagu.
Sebagai pensiunan tentara yang kemudian menjabat sebagai pengawas jalan umum (Opzichter), ia memiliki tanggung jawab penting dalam pembangunan infrastruktur transportasi.
Ia memastikan jalur penghubung dari wilayah pesisir Bolaang menuju daerah pedalaman Dumoga dapat dilalui dengan baik.
Namun perannya tidak berhenti pada bidang teknis.
Di bidang spiritual, Rombouts menjadi sosok penopang utama bagi umat Katolik yang saat itu jumlahnya sekitar seratus orang.
Sebelum berdirinya gereja permanen, rumah Tuan Rombouts berfungsi sebagai tempat ibadah sementara bagi umat Katolik.
Rumah tersebut menjadi pusat kegiatan rohani komunitas kecil tersebut.
Setiap hari Minggu, umat berkumpul untuk mengikuti ibadah bersama.
Para misionaris yang datang dari Minahasa juga sering menjadikan rumah Rombouts sebagai tempat singgah sebelum melanjutkan pelayanan pastoral mereka di wilayah Mongondow.
Sifat Rombouts yang dikenal ramah dan terbuka membuatnya dihormati oleh banyak kalangan, baik dari komunitas Katolik maupun masyarakat luas.
Puncak perkembangan sejarah Katolik Bolaang Mongondow terjadi ketika gereja permanen akhirnya dibangun.
Gereja tersebut kemudian dikenal sebagai Paroki Kristus Raja Kotamobagu.
Salah satu momen paling bersejarah dalam proses ini adalah kehadiran Raja Laurens Cornelis Manoppo pada acara pemberkatan gereja.
Walaupun dikenal sebagai seorang Muslim yang taat dan pemimpin kerajaan Islam di Mongondow, Raja Manoppo hadir secara langsung dalam acara tersebut.
Kehadirannya bukan sekadar simbol formalitas.
Hal itu menunjukkan sikap terbuka dan komitmen kerajaan dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Kehadiran Raja Laurens Cornelis Manoppo dalam peresmian gereja memiliki makna penting bagi sejarah Mongondow.
Beberapa hal yang tercermin dari kehadiran tersebut antara lain:
1. Pengakuan terhadap seluruh rakyat
Raja hadir sebagai pemimpin yang melindungi semua masyarakat tanpa memandang perbedaan agama.
2. Dukungan terhadap pembangunan komunitas
Kehadiran raja di samping Tuan Rombouts menunjukkan bahwa pembangunan gereja mendapat dukungan dari kerajaan.
3. Komitmen terhadap toleransi
Raja mengikuti seluruh prosesi peresmian gereja dari awal hingga akhir, termasuk Misa dan khotbah, sebagai wujud penghormatan terhadap umat Katolik.
Peristiwa ini menjadi simbol kuat toleransi beragama Mongondow yang telah tumbuh sejak lama.
Salah satu simbol penting dalam sejarah gereja di Kotamobagu adalah prasasti bertuliskan:
“Christus, Radja atas segala Radja.”
Penggunaan kata “Radja” dalam bahasa Melayu mencerminkan dialog budaya yang unik.
Istilah tersebut dipilih untuk menghormati struktur kepemimpinan lokal di Mongondow sekaligus menegaskan identitas spiritual gereja.
Melalui simbol tersebut, gereja tidak hanya hadir sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat Mongondow.
Kisah sejarah Katolik Bolaang Mongondow menunjukkan bahwa perkembangan iman dan pembangunan masyarakat dapat berjalan berdampingan.
Peran Tuan Rombouts sebagai perintis komunitas Katolik dan sikap terbuka Raja Laurens Cornelis Manoppo menciptakan fondasi kuat bagi kehidupan lintas agama di wilayah ini.
Sejak lebih dari satu abad lalu, masyarakat Mongondow telah menunjukkan bahwa kemajuan infrastruktur, pertumbuhan iman, dan semangat persaudaraan dapat berkembang secara harmonis.
Warisan toleransi tersebut masih terasa hingga kini, menjadikan Kotamobagu sebagai salah satu contoh hidup kerukunan antaragama di Sulawesi Utara.
Sumber referensi sejarah:
Uitgave van de Missionarissen van het H. Hart (1934) – Delpher Archives.
- Benteng Otanaha: Menapaki Jejak Sejarah di Bukit Gorontalo
- Gereja Katolik Stasi St. Paulus Modayag Diresmikan, Wabup Boltim Argo Sumaiku Ajak Umat Perkuat Hal Ini
- Pergeseran Istilah Keagamaan: Pemerintah Indonesia Rencanakan Ubah Isa Almasih Menjadi Yesus Kristus