Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin!

DaerahSulut

Luas Panen Padi Sulawesi Utara Naik Tipis di 2025, Produktivitas Justru Merosot ke 44,25 Ku/Ha

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara merilis data produksi padi Sulawesi Utara 2024 dan 2025 melalui Tabel 5.1.1 yang mencakup seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini. Luas panen padi Sulawesi Utara mencapai 59.912 hektare pada 2025, naik tipis dari 59.121,96 hektare pada tahun sebelumnya. Namun, produktivitas padi Sulawesi Utara justru merosot dari 46,20 kuintal per hektare di 2024 menjadi hanya 44,25 kuintal per hektare di 2025. Penurunan produktivitas ini membayangi capaian positif perluasan lahan panen dan memunculkan kekhawatiran serius terhadap ketahanan pangan regional.

Bolaang Mongondow tetap memimpin sebagai daerah dengan luas panen padi terbesar di Sulawesi Utara meski mengalami penurunan dari 34.513,37 hektare menjadi 33.015 hektare di 2025. Sementara itu, Bolaang Mongondow Utara mencatat lonjakan luas panen paling signifikan, dari 5.545,86 hektare melonjak tajam ke 8.992 hektare. Selain itu, Kepulauan Talaud membukukan kenaikan spektakuler dari hanya 0,29 hektare menjadi 42 hektare dalam satu tahun. Dengan demikian, terjadi pergeseran peta produksi padi yang cukup dinamis di sejumlah kabupaten Sulawesi Utara sepanjang 2025.

Advertisement

Bolaang Mongondow Utara Catat Lonjakan Lahan Panen Terbesar, Naik 62 Persen dalam Setahun

Data panen padi kabupaten Sulawesi Utara 2025 memperlihatkan dinamika yang sangat beragam antar wilayah. Bolaang Mongondow Utara memimpin pertumbuhan luas panen dengan kenaikan 3.446,14 hektare atau sekitar 62 persen dibanding 2024. Selanjutnya, Kepulauan Talaud membukukan pertumbuhan persentase tertinggi secara absolut meski dari basis yang sangat kecil. Oleh karena itu, dua daerah ini menjadi motor perluasan lahan padi yang paling menonjol di Sulawesi Utara tahun ini.

Sebaliknya, Bolaang Mongondow justru kehilangan 1.498,37 hektare luas panen dibanding tahun lalu. Minahasa Selatan turut mencatat penurunan signifikan dari 3.148,24 hektare menjadi hanya 2.379 hektare di 2025. Bahkan, Minahasa Utara mengalami penyusutan lahan panen dari 1.014,17 hektare menjadi 854 hektare dalam periode yang sama. Akibatnya, penurunan lahan di tiga kabupaten besar ini hampir mengimbangi pertumbuhan yang terjadi di wilayah lain.

Advertisement

Dari sisi kota, Kotamobagu memimpin dengan luas panen 3.245 hektare dan produktivitas 44,33 kuintal per hektare di 2025. Tomohon menjadi kota dengan produktivitas padi tertinggi di Sulawesi Utara, mempertahankan angka 59,01 kuintal per hektare yang stabil dari 59,38 di 2024. Sementara itu, Kota Bitung mencatat penurunan luas panen dari 71,87 hektare menjadi hanya 18 hektare, meski produktivitasnya tetap kompetitif di 42,84 kuintal per hektare. Dengan demikian, Tomohon membuktikan bahwa intensifikasi pertanian mampu menghasilkan produktivitas tinggi meski dengan lahan yang terbatas.

Produktivitas Padi Sulut Merosot Merata, Minahasa Tenggara Justru Jadi Pengecualian Positif

Tren produktivitas padi Sulawesi Utara 2025 secara umum menunjukkan penurunan di hampir seluruh kabupaten dan kota. Bolaang Mongondow mencatat penurunan produktivitas dari 47,38 menjadi 45,27 kuintal per hektare meski tetap di atas rata-rata provinsi. Selain itu, Minahasa mengalami penurunan tipis dari 48,02 menjadi 47,73 kuintal per hektare, mempertahankan posisi sebagai kabupaten dengan produktivitas tertinggi kedua. Namun demikian, angka-angka ini tetap mencerminkan tekanan terhadap efisiensi produksi padi Sulut yang perlu segera diatasi.

Minahasa Tenggara tampil sebagai pengecualian positif dalam tren penurunan produktivitas yang melanda provinsi ini. Daerah ini justru meningkatkan produktivitasnya dari 43,61 menjadi 46,83 kuintal per hektare, sekaligus menambah luas panen dari 1.511,36 menjadi 1.870 hektare. Selanjutnya, Bolaang Mongondow Selatan turut mempertahankan produktivitas yang relatif stabil di kisaran 40,91 kuintal per hektare. Oleh sebab itu, Minahasa Tenggara layak menjadi model replikasi praktik pertanian padi yang efektif bagi kabupaten lain di Sulawesi Utara.

Kepulauan Sangihe mencatat penurunan produktivitas paling tajam, dari 43,03 kuintal per hektare menjadi hanya 37,40 kuintal per hektare di 2025. Penurunan ini sejalan dengan menyusutnya luas panen dari 8,65 hektare menjadi 7 hektare dalam periode yang sama. Akibatnya, Kepulauan Sangihe menghadapi tantangan ganda berupa penyusutan lahan sekaligus kemerosotan produktivitas secara bersamaan. Kondisi ini menuntut intervensi program pertanian yang spesifik dan terukur dari pemerintah provinsi maupun pusat.

Advertisement

Data Sulut 2025 Desak Pemerintah Intensifkan Program Pertanian Padi Secara Menyeluruh

Kontras antara kenaikan luas panen dan penurunan produktivitas dalam data pertanian padi Sulawesi Utara 2025 menghadirkan dilema kebijakan yang serius. Perluasan lahan panen memang positif, tetapi penurunan produktivitas dari 46,20 menjadi 44,25 kuintal per hektare menggerus potensi peningkatan total produksi secara keseluruhan. Selain itu, kesenjangan produktivitas antar daerah yang sangat lebar — dari 37,40 di Sangihe hingga 59,01 di Tomohon – mencerminkan ketimpangan akses teknologi dan input pertanian. Dengan demikian, pemerintah Sulawesi Utara perlu memprioritaskan program intensifikasi pertanian yang merata dan berbasis data di seluruh wilayah.

Fakta bahwa Kepulauan Siau Tagulandang Biaro tidak mencatat data luas panen maupun produktivitas juga memunculkan pertanyaan serius. Ketidaktersediaan data ini mengindikasikan kemungkinan absennya aktivitas pertanian padi yang signifikan di kepulauan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah provinsi perlu memastikan program pengembangan pertanian menjangkau wilayah kepulauan yang selama ini luput dari perhatian. Program bantuan benih, pupuk, dan pendampingan teknis harus segera menyentuh daerah-daerah dengan produktivitas rendah secara konkret.

Keberhasilan Bolaang Mongondow Utara melipatgandakan luas panen dan Minahasa Tenggara meningkatkan produktivitas membuktikan bahwa terobosan di tingkat daerah sangat mungkin terwujud. Praktik terbaik dari dua kabupaten ini perlu segera didokumentasikan dan direplikasi ke seluruh wilayah sentra produksi padi Sulawesi Utara. Akibatnya, Sulawesi Utara berpeluang meningkatkan total produksi padi secara signifikan jika program intensifikasi berjalan konsisten. Ketahanan pangan Sulawesi Utara sangat bergantung pada kemampuan daerah mengangkat produktivitas sekaligus mempertahankan perluasan lahan panen secara berkelanjutan.

Advertisement

Advertisement

Refli Hertanto Puasa

Jurnalis waktu.news yang aktif meliput berita daerah Sulawesi Utara, Travel, politik, dan Olahraga. Aktif di dunia blogging sejak 2003 dan jurnalisme sejak 2010. Anggota SPRI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button