DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) meragukan lonjakan tajam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan angka harapan hidup dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025. Keraguan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD, Medy Lensun, dalam rapat pembahasan LKPJ, Kamis (30/4/2026) belum lama ini.
Dalam forum itu, Medy menyinggung lonjakan IPM Boltim dari kisaran 69 ke 71. Ia mengingatkan, kenaikan tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai capaian tanpa diuji konsistensi dan validitas datanya.
“Di 2025 dari 69 koma jadi 71 koma. Nah di satu sisi ini trend menarik dan positif, tetapi kita tidak bisa langsung senang, oh jago, karena kenaikan dua poin, coba lihat, nah ini coba kita lihat trend dari 2021, terakhir 2024 68,53 posisi sekarang 71,43 ya, itu sangat tinggi,” sebutnya.
Medy juga memberikan apresiasi terhadap capaian tersebut. Namun, ia menegaskan DPRD tetap membutuhkan penjelasan rinci terkait metode penghitungan yang digunakan.
“Di satu sisi saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan. Tetapi perlu dicermati kembali potensi kesalahan dalam penghitungan atau formulasi apa yang dia pakai untuk mendapatkan IPM ini,” sambungnya.
Ia menyebut DPRD telah mengundang pihak terkait untuk menjelaskan metodologi perhitungan, namun belum sempat hadir.
“Ini perlu penjelasan dari BPS. Kami mengundang BPS kemarin tapi belum sempat barangkali. Karena kenaikannya sangat tinggi Pak Sekda, dari 68 ke 71. Harus ada jawaban yang masuk di akal supaya benar-benar angka ini dianggap valid,” kata Medy.
Selain IPM, Medy juga mempertanyakan lonjakan angka harapan hidup yang dinilainya tidak realistis secara statistik.
“Okey, ke dua indeks harapan hidup. Ini indikator-indikator penting yang bisa kita pakai untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah. Nah ini lagi, ini angka harapan hidup ini secara jujur saya tidak percaya,” tegasnya.
Ia menyebut kenaikan hampir lima poin sebagai sesuatu yang janggal, bahkan mendekati tidak masuk akal.
“Saya mengapresiasi bahwa indeks harapan hidup Bolaang Mongondow Timur naik signifikan, tetapi poin kenaikan yang kurang lebih hampir 5 poin ini hampir nonsense, impossible. Di titinjau dari sudut manapun, pakai rumus apapun yang kita kenal yang sudah familiar dengan metode perhitungan, angka harapan hidup ini hampir tidak mengena Pak Sekda. Dari 68 tahun rata-rata ke angka 73. Ini sudah sangat tinggi, hampir 5 tahun kenaikan,” ujar Medy.
Medy menegaskan bahwa data statistik tidak boleh mengandung kekeliruan karena akan berdampak langsung pada arah kebijakan pembangunan daerah.
“Ini bicara angka, tapi tidak boleh ada pembohong angka, tidak boleh kesalahan angka. Mungkin, ya kita ambil angka ini karena bersumber dari Boltim dalam angka 2025 yang mengambil data BPS. Tapi harus dijelaskan dari mana angka-angak ini,” kata Medy.
Ia mengajak seluruh pihak, terutama yang memahami statistik dan perencanaan, untuk mengkaji ulang data tersebut secara rasional dan akademis.
“Kalau kita paham statistik, sedikit ilmu statistika yang kita pahami, orang-orang ekonomi, keuangan, PU pasti paham statistik, ini masuk di akal apa tidak? Coba ditelaah dengan baik itu. Tahun 2024 angka harapan hidup kita 68,73, di 2025 jadi 73, ini tidak ada dasar yang bisa menguatkan ini,” tambah Medy.
Medy juga mengingatkan agar kesalahan data, sekecil apa pun, tidak sampai terbawa ke dalam dokumen perencanaan strategis daerah.
“Ini sekedar angka, terlihat dihadapan kita itu hanya sekedar angka, tapi angka ini luar biasa, sulit dicerna. Jangan, misalnya salah tulis kemudian kita sudah pakai angka ini, sudah di bawa kemana-mana disetiap dokumen perencanaan pembangunan kita pakai tiba-tiba salah,” kata Medy.
Ia pun meminta pemerintah daerah melakukan verifikasi ulang sebelum menjadikan data tersebut sebagai acuan resmi.
“Jadi tolong dicerna lagi, mudah-mudahan ini benar, saya berharap supaya benar-benar ini yang dipakai, tapi kalau dilihat karena terlalu jauh sehingga sepertinya mustahil,” pungkasnya. (aah)
- Indeks Pembangunan Manusia Sulawesi Tengah 2025 Capai 72,82 – Kota Palu Tertinggi, Banggai Kepulauan Masih Tertinggal
- Indeks Pembangunan Manusia Gorontalo 2025 Naik ke 72,62 – Kota Gorontalo Tertinggi, Boalemo Masih Tertinggal
- Pemkab Boltim Sampaikan LKPJ 2025, IPM Naik dan Kemiskinan Menurun