
Di saat banyak daerah memilih menahan laju pembangunan karena keterbatasan anggaran, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) justru mengambil langkah berbeda. Di bawah kepemimpinan Bupati Oskar Manoppo dan Wakil Bupati Argo Vinsensius Sumaiku, Pemkab Boltim tetap menjalankan kebijakan infrastruktur yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pada tahun anggaran 2025, Pemkab Boltim mengalokasikan dana untuk peningkatan jalan Tongkaina–Batu Buaya. Jalur ini selama bertahun-tahun terkenal rawan dan kerap menjadi keluhan warga maupun wisatawan karena kondisi jalan yang masih berupa pengerasan, berbatu, dan licin, terutama saat musim hujan.
Kebijakan tersebut dinilai strategis karena satu keputusan mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus. Akses jalan perkebunan di wilayah Tongkaina, Desa Nuangan, yang sebelumnya sulit kini menjadi lebih layak. Di sisi lain, jalur menuju destinasi wisata Batu Buaya di Desa Iyok, salah satu potensi pariwisata Boltim, akhirnya mendapat sentuhan infrastruktur yang memadai.
Dua titik rawan yang selama ini menghambat aktivitas warga kini telah diaspal. Perubahan kondisi jalan dirasakan signifikan, tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga memperlancar gerak masyarakat.

Proyek pengaspalan ini dikerjakan oleh CV Pinto Alfa Jaya dengan nilai kontrak Rp2,7 miliar. Perusahaan yang beralamat di Matungkas, Minahasa Utara, tersebut tidak hanya melakukan pengaspalan, tetapi juga membangun dua unit plat duiker untuk memperbaiki sistem drainase sekaligus memperkuat struktur jalan.
Aktivitas Warga Makin Lancar
Manfaat proyek ini mulai warga rasakan sejak awal 2026. Aktivitas masyarakat menjadi lebih lancar, sementara akses menuju kawasan wisata kian terbuka.
Langkah ini menegaskan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Boltim di bawah kepemimpinan Oskar Manoppo dan Argo Sumaiku. Infrastruktur tidak dipandang semata sebagai proyek fisik, melainkan sebagai instrumen pelayanan publik dan pengungkit ekonomi lokal. Jalan yang memadai bukan hanya memudahkan mobilitas, tetapi juga membuka peluang bagi sektor pertanian dan pariwisata tumbuh beriringan.
Pandangan serupa datang dari mantan Sangadi (Kepala Desa) Nuangan, Hamdan Arbie. Ia menilai kebijakan tersebut patut mendapat apresiasi, mengingat kondisi keuangan daerah yang tengah berada dalam masa efisiensi.

“Bagi saya ini luar biasa. Maksudnya, dalam keadaan (efisiensi anggaran) seperti ini, bupati masih bisa menyisipkan untuk kebutuhan masyarakat,” ujar Hamdan.
Menurutnya, kemampuan menghadirkan proyek infrastruktur di tengah keterbatasan anggaran mencerminkan kerja nyata kepala daerah.
“Ini namanya kinerja. Itu berarti bupati selama ini sudah berusaha, walaupun di dalam keadaan darurat (anggaran). Kalau kena bupati lain memang bisa-bisa stres, karena anggaran di daerah minim sekali, tapi ada proyek,” katanya.
Proyek peningkatan jalan ini berada di tiga titik dalam satu garis jalur Tongkaina–Batu Buaya. Dua titik berada di jalan perkebunan Tongkaina dengan panjang masing-masing sekitar 465 meter dan 422 meter, sedangkan satu titik lainnya berada di jalur menuju destinasi wisata Batu Buaya dengan panjang sekitar 770 meter. (aah)