SEMARANG – Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan gagasan KAMPUNG LESTARI sebagai konsep permukiman masa depan yang mengintegrasikan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Gagasan tersebut diajukan dalam Program Kreativitas Mahasiswa–Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM-GFT).

Gagasan ini dikembangkan oleh tim yang terdiri atas Syafiq Akmal Fauzan sebagai ketua, bersama Achmad Fauzan, Mohammad Kresna Anugrah Raharjo, Putri Angellina, dan Nur Alfiati, dengan didampingi oleh M. Faris Al Hakim, S.Pd., M.Cs., sebagai dosen pendamping.

KAMPUNG LESTARI dirancang sebagai kawasan permukiman yang berupaya mengelola sumber daya secara terpadu melalui empat aspek utama, yaitu ketahanan air, sistem bio-sirkular, ketahanan energi, dan tata kelola digital.

Konsep tersebut berangkat dari kebutuhan untuk mengembangkan kawasan permukiman yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga mampu mengelola sumber daya secara lebih efisien dan adaptif terhadap tantangan lingkungan serta perkembangan teknologi.

BACA JUGA
Pengelolaan air berkelanjutan dalam KAMPUNG LESTARI menyoroti isu pembangunan yang juga muncul dalam Debat Perdana Calon Walikota Tomohon.

Dalam rancangan KAMPUNG LESTARI, pengelolaan air diarahkan pada pemanfaatan dan pengolahan sumber daya air secara berkelanjutan. Sistem bio-sirkular dikembangkan untuk mengoptimalkan kembali sumber daya organik. Sementara itu, ketahanan energi didukung melalui pemanfaatan energi terbarukan dan pengelolaan energi secara terpadu.

Aspek digital menjadi bagian yang mendukung pengelolaan kawasan melalui pemanfaatan data, Internet of Things (IoT), serta teknologi digital untuk membantu pemantauan dan pengambilan keputusan.

Gagasan tersebut tidak hanya menempatkan teknologi sebagai solusi, tetapi juga mempertimbangkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pengembangan kawasan. Pemerintah, pengembang, penyedia infrastruktur, lembaga riset, masyarakat, serta pihak pendukung lainnya dapat memiliki peran sesuai kebutuhan dan tahapan implementasi.

BACA JUGA
Keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan kawasan sejalan dengan peran Paris RA Jusuf sebagai pembicara bagi mahasiswa dalam Program ILCAMP BI.

KAMPUNG LESTARI merupakan gagasan yang masih berada pada tahap perancangan. Oleh karena itu, berbagai aspek teknis, kelembagaan, pembiayaan, dan implementasinya masih memerlukan kajian serta validasi lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara nyata.

Melalui gagasan tersebut, tim mahasiswa UNNES berupaya menawarkan perspektif mengenai bagaimana kawasan permukiman di masa depan dapat dirancang agar lebih adaptif, terintegrasi, dan berkelanjutan.