Tokoh Adat Panang, Dusun V, Desa Kotabunan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Arsad Mokoagow, mengungkapkan alasan dirinya tetap mempertahankan wilayah Panang di tengah program relokasi PT Arafura Surya Alam (ASA).

Menurut Arsad, Panang bukan sekadar wilayah tempat tinggal, melainkan tumpuan hidup masyarakat Kotabunan dan Bulawan Bersatu, terutama warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas penambangan tradisional.

Ia khawatir, masyarakat yang direlokasi nantinya tidak lagi memiliki akses untuk mencari nafkah di wilayah tersebut.

"Yang saya pertahankan ini hak masyarakat adat punya tempat mencari di Panang ini. Kasihan mereka kalau sudah direlokasi begitu sudah tidak boleh, sudah dilarang untuk datang mencari di sini. Mencari apa mereka di sana? Makan apa mereka? Mau bergaul pakai apa mereka?" kata Arsad saat ditemui wartawan belum lama ini.

Arsad menegaskan, mempertahankan Panang merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar. Selama masih menjabat sebagai Ketua Lembaga Adat, ia menyatakan tetap memperjuangkan hak masyarakat adat atas wilayah tersebut.

BACA JUGA
Dalam isu yang sama, Arsad juga menyoroti dugaan penerima relokasi PT ASA bukan warga asli Panang, sebagaimana diberitakan dalam artikel terkait.

"Pokoknya sampai kapanpun harga mati Panang ini. Kalau saya pribadi, masih, belum dipecat dari ketua lembaga adat di sini saya masih tetap mempertahankan hak masyarakat adat punya tempat mencari, tumpuan hidup di sini," tegasnya.

Ia bahkan menyatakan tidak akan mundur dari perjuangannya meskipun harus menghadapi berbagai risiko.

"Saya tetap lawan itu. Apapun. Saya tetap, walaupun tinggal saya sendiri di sini, berdiri di sini. Kendati mereka suruh tembak saya, saya siap, saya rela demi masyarakat banyak yang ada di kampung," ungkap Arsad.

Selain persoalan mata pencaharian, Arsad turut menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana aktivitas peledakan atau blasting di kawasan tersebut. Ia mengaitkannya dengan keberadaan terowongan peninggalan Belanda yang menurutnya berada di antara wilayah Bulawan dan Kotabunan.

BACA JUGA
Kekhawatiran Arsad mengenai aktivitas blasting melengkapi gambaran penolakan relokasi warga Panang terhadap program PT ASA yang dibahas dalam artikel terkait.

"Ketika mereka ingin blasting di sini, ini ke bawah (arah) terowongan. Antara Bulawan Kotabunan itu terowongan, terowongan Belanda itu. Kalau itu ke bawah (runtuh), air laut akan naik pasti dampaknya enam desa itu, kasihan," kata Arsad.

Arsad mengatakan, banyak masyarakat dari Kotabunan dan Bulawan Bersatu yang menggantungkan hidup di kawasan Panang. Menurutnya, tidak semua warga memiliki pekerjaan tetap atau penghasilan besar.

"Banyak orang yang menggantungkan hidup di sini. Kotabunan, Bulawan bersatu itu tidak semua pegawai, tidak semua orang kaya. Kebanyakan, sebagian itu penambang dan tumpuan mereka itu cuma di sini yang aman," tuturnya.

Ia juga membandingkan kondisi aktivitas penambangan di Panang dengan wilayah Ratatotok. Menurut Arsad, selama sekitar 40 tahun, aktivitas masyarakat di Panang tidak pernah diwarnai kerusuhan antarsesama penambang.

BACA JUGA
Perbandingan kondisi Panang dan Ratatotok menjadi konteks bagi protes warga Panang yang ditanggapi Ketua DPRD Boltim terkait pemasangan papan informasi PT ASA.

"Kalau mereka ke Rata (Ratatotok) kan berhadapan dengan samuarai (golok) apa semuanya. Tapi kalau di sini selama tidak pernah. Sudah 40 tahun tidak pernah ada kerusuhan, tidak pernah ada kerusakan apa-apa. Kalaupun ada korban, korban dengan zat asam di dalam lubang, tapi untuk berkelahi tidak ada," katanya.

Di tengah persoalan tersebut, Arsad mengaku hanya meminta sebagian lahan dari wilayah izin PT ASA untuk dimanfaatkan masyarakat penambang di Kotabunan dan Bulawan Bersatu.

"Itu yang saya minta sayatan izin dari PT ASA kan 4 ribu hektar atau berapa itu, saya minta 40 hektar untuk masyarakat penambangan di sini, Kotabunan bersatu, Bulawan bersatu. Cuma itu yang saya minta," jelasnya.

Arsad kemudian menceritakan pengalamannya ketika sejumlah perempuan atau ibu-ibu yang sedang mengisi material mengandung emas di kawasan Panang mendapat teguran dari pihak perusahaan.

BACA JUGA
Pengalaman itu menjadi bagian dari protes warga Panang terhadap aktivitas PT ASA, termasuk pemasangan papan klaim lahan yang dipertanyakan masyarakat dan disinggung DPRD Boltim.

"Saya pernah waktu itu perusahaan datang cegah mama-mama (ibu-ibu) mengisi abu (material mengandung emas). Jadi saya ke bawah karena anak-anak datang panggil, ke bawah dulu Aki, ini mereka (perusahaan) sudah usir mama-mama mengisi material," kenangnya.

Ia mengaku mendatangi lokasi setelah mendapat informasi dari warga. Saat berada di sana, Arsad melihat para ibu-ibu tersebut menepuk perut mereka dengan parang.

"Jadi saya ke bawah. Begitu melihat saya mama-mama itu ambil mereka punya parang terus mengatakan e Aki lantaran ini," kata Arsad sambil menepuk perut memperagakan gaya mama-mana yang menepuk perut mereka dengan parang.

Menurut Arsad, para ibu-ibu tersebut bekerja mengisi material demi memenuhi kebutuhan makan keluarga. Penghasilan yang mereka peroleh hanya sekitar Rp30 ribu sehari.

"Satu hari cuma sepuluh panggal 30 ribu cuma 2

Iklan

liter beras. Itu jawaban dari perempuan-perempuan (ibu-ibu) yang mengisi material di bawah pohon kelapa di bawah sana. Isi perut yang mereka bilang. Ini yang menyuruh kami, perut," kata Arsad sambil menepuk-nepuk perut.

BACA JUGA
Persoalan penghidupan warga tersebut berlangsung di Panang, yang juga menjadi lokasi ketika Warga Kotabunan Boltim Peringati HUT RI ke-81 dan Alwi Tubagus menegaskan kawasan itu bukan tanah kosong.

Ia kembali menjelaskan bahwa penghasilan tersebut hanya cukup untuk membeli beras dan belum bisa memenuhi kebutuhan lauk-pauk keluarga.

"Sementara mama-mama itu satu hari cuma dapat 10 panggal (satu panggal itu seperti ukuran satu karung tidak penuh), kali 3 ribu cuma 30 ribu, dua liter beras, tidak dapat beli ikan. Untuk besoknya lagi datang mengisi, begitu lagi," ungkapnya.

Arsad menegaskan, perjuangannya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan mempertahankan tempat masyarakat adat mencari nafkah.

"Intinya seperti saya bilang itu, saya cuman mempertahankan hak masyarakat adat punya tempat mencari, intinya itu. Memperjuangkan tumpuan hidup masyarakat di sini," tegasnya.

Ia juga menyatakan tidak ingin menerima uang dari perusahaan apabila hal itu berarti harus melepaskan perjuangannya mempertahankan Panang.

"Saya tidak mau jadi pengkhianat. Saya sendiri kalau suka perusahaan ingin bayar biar berapa yang mereka ingin bayar, saya tidak ingin ambil karena apa? Saya ini manusia biasa, kan manusia akan mati," ujarnya.

Arsad bahkan mengibaratkan bahwa jika dirinya menerima uang dari perusahaan, hal itu bisa menjadi pegangan bagi perusahaan untuk menganggap dirinya telah menyetujui pelepasan wilayah Panang.

"Ketika saya akan ambil itu uang yang mereka akan kasih saya berjalan ke sana terus ketabrak mobil terus mati. A perusahaan sudah punya pegangan ow Aki sudah menerima ini jadi Aki sudah keluar jadi seluruh masyarakat akan keluar itu," tuturnya.

Baginya, mempertahankan Panang juga merupakan tanggung jawab moral kepada generasi berikutnya. Ia tidak ingin anak cucunya kelak menganggap dirinya telah mengkhianati amanah masyarakat adat.

"Sepuluh tahun kedepan saya tinggal tulang-belulang di dalam kubur, anak cucu saya di kampung akan menyebut saya, begini kalau Aki tidak jual Panang itu kami masih boleh pergi mencari. Tinggal tulang belulang di dalam kubur masih di angkat-angkat karena saya tidak amanah, tidak ada tanggung jawab ke masyarakat adat," pungkas Arsad. (aah)