Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin!

DaerahSulteng

Penumpang Kapal Sulawesi Tengah 2025: Luwuk Dominasi, 15 Pelabuhan Aktif Tanpa Lalu Lintas Internasional

Pelabuhan Luwuk Catat 172.921 Kedatangan, Tertinggi di Antara Semua Pelabuhan Sulteng

Penumpang kapal Sulawesi Tengah 2025 mencatat Pelabuhan Luwuk sebagai pelabuhan tersibuk dengan 172.921 penumpang datang dan 151.263 penumpang berangkat sepanjang tahun. Data pelabuhan Sulawesi Tengah ini bersumber dari Laporan Sistem Monitoring Pelabuhan (SIMOPEL) yang termuat dalam Tabel 9.1.11 publikasi resmi BPS Sulteng. Seluruh 15 pelabuhan yang tercatat hanya melayani penumpang domestik tanpa satu pun lalu lintas penumpang internasional. Dengan demikian, lalu lintas penumpang kapal Sulteng ini sepenuhnya menggambarkan mobilitas antarwilayah dalam negeri.

Data mencakup tiga pelabuhan utama dan 12 pelabuhan tidak diusahakan atau non-komersial yang tersebar di seluruh provinsi. Selain Luwuk, statistik penumpang kapal Sulteng 2025 menempatkan Pelabuhan Salakan di posisi kedua dengan 57.346 penumpang datang dan 60.734 berangkat. Selanjutnya, Pelabuhan Donggala yang masuk kategori pelabuhan utama mencatat 48.617 kedatangan dan 56.260 keberangkatan. Oleh karena itu, tiga pelabuhan teratas ini bersama menjadi tulang punggung mobilitas penumpang kapal di Sulawesi Tengah.

Advertisement

Tiga Pelabuhan Utama Sulteng: Pantoloan, Donggala, dan Tolitoli Layani Ratusan Ribu Penumpang

Pelabuhan Luwuk penumpang terbanyak berada dalam kategori pelabuhan tidak diusahakan, bukan pelabuhan utama, yang menjadi fakta menarik dalam data ini. Di kategori pelabuhan utama, Pantoloan memimpin dengan 36.575 penumpang datang dan 35.965 berangkat sepanjang 2025. Donggala mencatat 48.617 kedatangan dan 56.260 keberangkatan, menjadikannya pelabuhan utama dengan volume tertinggi di kelompoknya. Sementara itu, Tolitoli mencatat 17.456 penumpang datang dan 12.729 berangkat, melengkapi tiga pelabuhan utama Sulawesi Tengah.

Arus penumpang kapal Sulteng di kategori pelabuhan tidak diusahakan menunjukkan disparitas yang sangat besar antarpelabuhan. Luwuk memimpin jauh dengan selisih lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Salakan di posisi kedua. Selain itu, Kolonodale mencatat 38.304 kedatangan dan 36.569 keberangkatan, menempatkannya di posisi ketiga terkuat dalam kategori ini. Namun demikian, data Kolonodale untuk keberangkatan mencatat angka 34.239 yang berbeda dari kolom kedatangan, menunjukkan ketidakseimbangan arus penumpang di pelabuhan tersebut.

Advertisement

Pelabuhan Banggai membukukan 54.547 kedatangan dan 52.804 keberangkatan, menjadikannya salah satu pelabuhan non-komersial tersibuk kedua setelah Luwuk. Pagimana mencatat 23.576 kedatangan dan 24.222 keberangkatan, sementara Ampana membukukan 25.299 datang dan 36.368 berangkat. Selanjutnya, Wakai mencatat 17.802 kedatangan dan 11.261 keberangkatan dengan selisih arus yang cukup signifikan. Dengan demikian, data SIMOPEL Sulawesi Tengah ini memperlihatkan pola arus penumpang yang tidak merata antarwilayah.

Sejumlah Pelabuhan Kecil Catat Aktivitas Minim, Wani dan Moutong Nihil Data

Jumlah penumpang kapal laut Sulteng di beberapa pelabuhan kecil menunjukkan angka yang sangat rendah atau bahkan tidak tercatat sama sekali. Pelabuhan Ogoamas hanya mencatat 971 kedatangan dan 1.540 keberangkatan, salah satu yang terendah di antara semua pelabuhan aktif. Pelabuhan Parigi mencatat 738 kedatangan dan 846 keberangkatan, sementara Bunta membukukan 6.945 datang dan 8.418 berangkat. Selain itu, Pelabuhan Leok mencatat 1.753 kedatangan dan 2.032 keberangkatan sepanjang tahun 2025.

Pelabuhan Wani dan Moutong tidak mencatat angka penumpang sama sekali dalam data SIMOPEL 2025 ini. Kondisi itu mengindikasikan bahwa kedua pelabuhan tersebut tidak aktif melayani penumpang pada periode laporan atau data tidak tersedia. Sementara itu, penumpang datang berangkat pelabuhan Sulteng untuk Dolong Popoli mencatat 4.324 kedatangan dan 5.999 keberangkatan. Oleh karena itu, pelabuhan utama non-komersial Sulawesi Tengah dengan volume kecil ini tetap memiliki peran penting dalam melayani konektivitas daerah terpencil.

Data SIMOPEL Sulawesi Tengah ini secara keseluruhan memperlihatkan bahwa mobilitas penumpang kapal di provinsi ini bertumpu pada jalur domestik sepenuhnya. Tidak adanya penumpang internasional mencerminkan bahwa pelabuhan-pelabuhan Sulteng belum terhubung dengan rute luar negeri secara langsung. Namun demikian, volume total penumpang yang mencapai ratusan ribu orang membuktikan bahwa transportasi laut masih menjadi tulang punggung konektivitas di Sulawesi Tengah. Akhirnya, statistik penumpang kapal Sulteng 2025 ini menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam merencanakan pengembangan infrastruktur pelabuhan ke depan.

Advertisement

Catatan Redaksi: Sumber data primer berasal dari Laporan Sistem Monitoring Pelabuhan (SIMOPEL)/Port Monitoring System Report.

Advertisement

Refli Hertanto Puasa

Jurnalis waktu.news yang aktif meliput berita daerah Sulawesi Utara, Travel, politik, dan Olahraga. Aktif di dunia blogging sejak 2003 dan jurnalisme sejak 2010. Anggota SPRI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button