Berita Boltim

Polemik di Muara Sungai Jiko Belanga, Camat Nuangan Angkat Bicara

Tutuyan – Camat Nuangan, Sinyo Mamonto angkat bicara mengenai polemik pengerukan material pasir di Muara Sungai Jiko Belanga, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Pasalnya, polemik antara beberapa warga masyarakat di sekitar muara dengan Pemdes Jiko Belanga, sudah dua kali ia tengahi. Baik turun langsung di lokasi, maupun mempertemukan kedua belah pihak di Kantor Pemerintah Kecamatan Nuangan.

Menurut Sinyo, niatan Kepala Desa mengizinkan pengerukan di Muara Sungai Jiko Belanga, masih dalam kategori normal. Karena, itu dilakukan semata-mata untuk mengurangi penumpukan material pasir, hasil sedimentasi. Hanya saja, cara penyampaiannya yang belum dapat diterima oleh beberapa warga sekitar Muara.

“Sebab kalau tidak dikeruk atau dikurangi pada titik temu antara muara dengan laut, maka pasti akan menutupi jalur air dan akibatnya malah bisa meluap masuk ke pemukiman warga sekitar,” kata Sinyo, Kamis (19/8/2021) kemarin pagi.

Jauh sebelum beberapa warga yang meributkan pengerukan pasir di muara sungai itu lahir, kata Sinyo. Ternyata ada sebuah kesepakatan adat pada 1980, melarang pembangunan rumah di sekitar muara sungai. Namun, seiring berjalannya waktu masyarakat kemudian memaksa mendirikan rumah.

“Mereka lupa, kesepakatan adat tahun 80an. Nah, mereka pikir tidak ada aturan. Padahal ada, siapa bilang tidak ada aturannya. Makanya saya hadirkan, tokoh masyarakat,” sambungnya.

Berita Terkait: Pengerukan Material Pasir di Muara Sungai Jiko Belanga, di Duga Sengaja Dibiarkan

Selain itu, kata Sinyo, mengenai air laut tampaknya semakin mendekati rumah warga bukan karena sudah disebabkan oleh terjadinya abrasi. Namun, karena pemanasan global dari efek rumah kaca yang menyebabkan es di kutub utara dan selatan mencair, sehingga menjadikan permukaan laut naik.

“Hal yang tidak mungkin menjaga lingkungan tapi membuat mati orang, tentu saja ada blanching, keseimbangan disitu. Kalau pengerukan wajar secara normal, sebetulnya warga desa silakan berkompromi, minimal ada Musyawarah desa,” jelasnya.

Pada pertemuan yang berlangsung di Kantor Pemerintah Kecamatan Nuangan beberapa waktu lalu itu, Sinyo Mamonto, menyarankan kepada Pemdes Jiko Belanga untuk memerhatikan kondisi tempat tinggal warga sekitar Muara, utamanya mengenai bantuan guna penopang kehidupan.

“Kemudian menormalisasi jalan air. Ajukan proposal ke kabupaten untuk pembangunan tanggul kiri dan kanan. Semoga dengan solusi itu, mereka saling menerima,” pungkasnya. (aah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button