Persoalan sampah organik yang menumpuk di TPA dan mencemari lingkungan sejatinya bukan sekadar isu teknis, melainkan masalah kewarganegaraan yang menyangkut hak setiap warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana dijamin Pasal 28H UUD 1945. Ketika sampah tidak dikelola dengan baik, yang dirugikan bukan hanya lingkungan, tetapi juga kualitas hidup masyarakat secara kolektif mulai dari pencemaran air, bau tidak sedap, hingga berkembangnya penyakit. Di sinilah tanggung jawab warga negara yang baik, termasuk mahasiswa, dituntut untuk hadir memberi solusi, bukan sekadar mengeluh.
Mahasiswa biologi memiliki bekal keilmuan yang sangat relevan untuk turun tangan mengatasi masalah ini. Salah satu solusi yang kini terbukti efektif dan mulai diadopsi banyak daerah di Indonesia adalah budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sampah organik rumah tangga dan pasar.
Dengan pemahaman tentang siklus hidup organisme, metabolisme mikroba, dan ekologi dekomposisi, mahasiswa biologi dapat merancang serta mengedukasi masyarakat mengenai teknik biokonversi sampah organik menjadi pakan ternak bernilai ekonomis melalui larva BSF, atau memanfaatkan mikroorganisme pengurai untuk membuat kompos dari limbah dapur. Keterlibatan ini bisa diwujudkan lewat program pengabdian masyarakat seperti pelatihan budi daya maggot bagi warga, penyuluhan bank sampah organik, atau kolaborasi riset dengan pemerintah desa sebagai sebuah bentuk kewarganegaraan aktif (active citizenship) di mana mahasiswa tidak hanya mempraktikkan sains, tetapi juga menjalankan kewajiban konstitusionalnya sebagai warga negara yang peduli terhadap lingkungan dan kesejahteraan bersama.
Selain itu, pengelolaan sampah organik melalui biokonversi juga dapat mendorong masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah tidak lagi hanya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi sumber daya yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi. Mahasiswa dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah dan kebutuhan masyarakat dengan memberikan pendampingan yang sederhana serta mudah diterapkan. Dengan adanya kerja sama antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah, pengelolaan sampah dapat dilakukan secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan maupun kehidupan sosial masyarakat.
Penulis : Rizky Mifthakul Rahmi, Mahasiswa Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.