BOLMONG – Tiga titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow dalam rentang sekitar empat setengah jam pada 13 Agustus 2026. Kebakaran melanda Desa Pasir Putih, Desa Tuyat, dan Desa Lalow.

Kebakaran pertama muncul di Desa Pasir Putih, Kecamatan Sang Tombolang, sekitar pukul 15.00 WITA. Sekitar dua jam kemudian, api muncul di Desa Tuyat, Kecamatan Lolak, pada pukul 17.00 WITA.

Kebakaran berikutnya dilaporkan sekitar pukul 19.30 WITA di Desa Lalow, Kecamatan Lolak. Lokasinya berada di kompleks rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati Bolaang Mongondow.

Iklan

Dugaan awal menyebut ketiga kebakaran dipicu aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Api yang awalnya berada di area terbatas kemudian merambat akibat hembusan angin kencang.

Api di Pasir Putih dan Tuyat Berhasil Dikendalikan

Di Desa Pasir Putih, kebakaran menghanguskan sekitar tiga hektare lahan. Petugas berhasil memadamkan api sekitar pukul 20.00 WITA.

BACA JUGA
Selain kejadian di Pasir Putih, informasi mengenai Karhutla Bolmong 2026 mencatat sekitar 30,2 hektare lahan dan hutan terbakar sejak 16 Juli hingga 8 Agustus.

Pada waktu yang hampir bersamaan, kebakaran di Desa Tuyat juga berhasil dikendalikan. Luas lahan yang terbakar di lokasi tersebut sekitar 1,5 hektare.

Situasi berbeda terjadi di Desa Lalow. Api terus bergerak karena arah angin berubah-ubah.

Hingga 14 Agustus 2026 pukul 09.30 WITA, sejumlah titik api masih belum dapat dijangkau personel Satgas Karhutla. Luas lahan yang terbakar di lokasi itu diperkirakan mencapai sekitar lima hektare dan proses pemadaman masih berlangsung.

Medan di kawasan puncak bukit menjadi salah satu kendala. Personel menghadapi jalur terjal dengan kemiringan yang cukup curam.

BACA JUGA
Sementara itu, perkembangan wilayah Gorontalo Utara juga mencakup peninjauan lahan 45 hektare untuk calon Sekolah Garuda Gorontalo.

Akses menuju titik api juga sulit dan berisiko terhadap keselamatan personel. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman belum dapat dilakukan secara maksimal.

BPBD Bolmong melaporkan angin kencang yang terus berubah arah menjadi salah satu kendala utama. Api dapat bergerak dan meluas mengikuti arah angin.

Keterbatasan jangkauan selang air turut menyulitkan petugas karena tidak semua titik api dapat dijangkau peralatan yang tersedia.

Saat malam hari, jarak pandang yang terbatas membuat pergerakan personel dan pemetaan titik api semakin sulit.

BACA JUGA
Selain penanganan karhutla, Bolaang Mongondow juga menjadi ruang pelestarian budaya melalui Festival Seni Budaya Bolaang Mongondow 2026 yang menghadirkan tari tradisional dan busana adat.

Pemkab Bolmong Kerahkan Personel dan Peralatan

Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow mengerahkan berbagai sumber daya untuk menangani kebakaran.

Peralatan yang dikerahkan meliputi dua unit mobil Damkar Bolmong, satu mobil Damkar Bandara Bolmong, dan satu mobil rescue Manggala Agni.

Selain itu, satu mobil tangki air PT Conch, satu mobil patroli Satpol PP, dua mobil rescue BPBD, serta 10 jet shooter turut mendukung operasi pemadaman.

Personel yang terlibat berasal dari Satpol PP dan Damkar Bolmong, Balai DalKarhut-Manggala Agni, TRC-PB BPBD, TNI, Polri, PT Conch, unsur Bandara Bolmong, KPH Unit I, pemerintah setempat, dan masyarakat.

Selain memadamkan titik api, personel berupaya mencegah kebakaran merambat ke kawasan lain.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Bolmong berada dalam kondisi siaga menghadapi ancaman kekeringan, karhutla, dan angin kencang. Bupati Bolmong telah menetapkan Status Siaga Darurat sejak 4 Agustus 2026.

Kepala BPBD Bolmong Candra Mokoginta mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terlebih ketika kondisi kemarau semakin kritis.

“Kebakaran yang terjadi hari ini adalah akibat pembukaan lahan dengan cara membakar tanpa pengawasan yang ketat,” ujar Candra.

Ia meminta masyarakat yang hendak membuka lahan terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah.

“Kalau memang ada kebutuhan membuka lahan baru, silakan mengajukan izin terlebih dahulu kepada pemerintah. Kami akan memberikan alternatif cara pembukaan lahan yang lebih aman,” katanya.

Candra turut mengapresiasi personel Satgas Karhutla yang masih bekerja di lapangan. Menurut dia, petugas tetap berupaya mengendalikan api meski menghadapi medan sulit, angin kencang, dan keterbatasan jarak pandang.

“Di tengah medan yang sulit, angin yang kencang, dan visibilitas terbatas, mereka tetap bekerja maksimal untuk menyelamatkan hutan dan lahan milik masyarakat Bolmong,” ujar Candra.

Hingga pagi 14 Agustus, Satgas Karhutla masih melakukan pemadaman dan pemantauan di Desa Lalow.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan secara sembarangan. Dalam kondisi vegetasi kering dan angin kencang, api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar.