Langkah Dikbud untuk mematenkan Asida sebagai kuliner khas Boltim bukan tanpa alasan. Secara historis, menurut Yusri, Asida sudah menjadi hidangan khas masyarakat suku Mongondow di pesisir pantai selatan Sulawesi Utara, sekarang Bolaang Mongondow Timur.
"Dari dulu, semua hajatan apa saja di Kotabunan (meliputi Nuangan, Motongkad dan Tutuyan), makanan khas yang disuguhkan itu adalah Asida. Dan itu kita tidak temui di kampung-kampung lain seperti di Kotamobagu atau Lolak, tidak," ungkapnya.
Selain berpotensi memperkuat perekonomian masyarakat, langkah mematenkan Asida sebagai kue khas Bolaang Mongondow Timur ini, tak lain adalah untuk merawat sekaligus mempertahankan tradisi budaya non benda yang sudah berlangsung sejak lama.
"Nah, kalau sudah dipatenkan jadi khas Boltim, maka ini akan menjadi Kuliner khas Boltim, tinggal variannya yang mungkin dibuat macam-macam," tambah Yusri.
"Misalnya, ketika campuran terigu dan sedikit gula aren lalu di tambah sedikit minyak, maka ini boleh jadi adonan yang tahan lama," sambungnya. (aah)
Langkah Dikbud untuk mematenkan Asida sebagai kuliner khas Boltim bukan tanpa alasan. Secara historis, menurut Yusri, Asida sudah menjadi hidangan khas masyarakat suku Mongondow di pesisir pantai selatan Sulawesi Utara, sekarang Bolaang Mongondow Timur.
"Dari dulu, semua hajatan apa saja di Kotabunan (meliputi Nuangan, Motongkad dan Tutuyan), makanan khas yang disuguhkan itu adalah Asida. Dan itu kita tidak temui di kampung-kampung lain seperti di Kotamobagu atau Lolak, tidak," ungkapnya.
Selain berpotensi memperkuat perekonomian masyarakat, langkah mematenkan Asida sebagai kue khas Bolaang Mongondow Timur ini, tak lain adalah untuk merawat sekaligus mempertahankan tradisi budaya non benda yang sudah berlangsung sejak lama.
"Nah, kalau sudah dipatenkan jadi khas Boltim, maka ini akan menjadi Kuliner khas Boltim, tinggal variannya yang mungkin dibuat macam-macam," tambah Yusri.
"Misalnya, ketika campuran terigu dan sedikit gula aren lalu di tambah sedikit minyak, maka ini boleh jadi adonan yang tahan lama," sambungnya. (aah)
Dukung Jurnalisme Waktu.News
Dukungan pembaca membantu Waktu.News terus menghadirkan kerja jurnalistik untuk masyarakat.
Dukungan dari artikel ini tercatat sebagai apresiasi terhadap karya jurnalistik Abdul Agus Heydemans.
Dukungan tidak memengaruhi independensi, isi, sudut pandang, maupun keputusan editorial Waktu.News.