Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin!

Media Network
Opini

30 Tahun Mengabdi, Pensiunan PG Gorontalo Tolangohula Tagih Dana Pensiun yang Lenyap di Pusaran Jiwasraya

Ratusan pensiunan Pabrik Gula Gorontalo Tolangohula menggugat hilangnya dana pensiun yang seharusnya menjadi hak mereka setelah tiga dekade pengabdian. Manajemen PG menunjuk Jiwasraya yang bangkrut sebagai biang masalah, sementara para buruh menuntut tanggung jawab langsung perusahaan menjelang May Day 2026.

Ratusan pensiunan Pabrik Gula (PG) Gorontalo Tolangohula menagih kejelasan dana pensiun mereka yang lenyap dalam pusaran skandal Jiwasraya. Para buruh ini telah mengabdi lebih dari 30 tahun memutar roda industri gula di Gorontalo. Menjelang peringatan May Day 2026, jeritan mereka berubah menjadi alarm keras tentang perlindungan hak buruh purnatugas di Indonesia.

Selama tiga dekade, para buruh memikul tebu di bawah terik matahari demi menjaga mesin pabrik tetap menderu. Mereka menyisihkan keringat untuk dana hari tua yang seharusnya menjadi penopang di usia senja. Kini di tengah raga yang ringkih dan rambut memutih, kenyataan pahit justru menyambut: dana pensiun mereka menguap entah ke mana.

Advertisement

Manajemen PG Gorontalo Tunjuk Jiwasraya Bangkrut, Pensiunan Tolak Lempar Tanggung Jawab

Pihak manajemen PG Gorontalo Tolangohula menunjuk PT Jiwasraya yang telah bangkrut sebagai pihak penyebab macetnya pembayaran dana pensiun. Argumen tersebut langsung memicu kemarahan para buruh purnatugas. Mereka menegaskan tidak pernah bekerja untuk Jiwasraya, melainkan memeras tenaga untuk pabrik gula tersebut selama tiga puluh tahun.

Bagi para pensiunan, dalih perusahaan terdengar seperti upaya mencuci tangan dari kewajiban moral. Perusahaan menikmati keuntungan dari kesuburan tanah Gorontalo selama puluhan tahun. Namun saat tiba waktunya memberi penghidupan layak bagi pekerja yang menua, perusahaan justru mengarahkan jari ke raksasa keuangan yang sudah lama tumbang.

Krisis Transparansi Data, Buruh Terjebak Kegelapan Informasi di Era Digital

Dari kacamata tata kelola data, kasus ini memperlihatkan kegagalan sistemik dalam melindungi hak buruh. Para pensiunan tidak memiliki akses dasbor digital untuk memantau ke mana dana mereka mengalir. Kondisi ini membuat buruh terperangkap dalam kegelapan informasi di tengah era industri 4.0 yang katanya serba transparan.

Advertisement

Ketiadaan integrasi data antara perusahaan dan negara bukan sekadar masalah teknis. Pola tersebut justru memungkinkan akuntabilitas bergeser dan tanggung jawab terus mengambang. Tanpa transparansi tata kelola, buruh menjadi angka statistik yang mudah dihapus ketika produktivitas mereka berakhir.

Tiga Tuntutan Pensiunan: Dana Talangan, Audit Total, dan Intervensi Negara

Para pensiunan menyuarakan tiga tuntutan konkret kepada perusahaan dan negara. Pertama, perusahaan wajib memberikan dana talangan tanpa menunggu proses likuidasi Jiwasraya yang tidak menentu. Kedua, audit total terhadap alur dana pensiun buruh sejak hari pertama mereka bekerja harus segera bergulir.

Tuntutan ketiga menyasar pemerintah pusat dan daerah untuk turun tangan langsung. Mereka mendesak negara menekan perusahaan agar menuntaskan hutang kemanusiaan terhadap para pekerja senior. Pemerintah Provinsi Gorontalo, menurut para pensiunan, tidak boleh hanya menjadi penonton di balik citra “Bumi Serambi Madinah”.

May Day 2026 Jadi Cermin Keadilan Sosial Buruh Pabrik Gula Gorontalo

Pengawasan tenaga kerja di Gorontalo dinilai tumpul ketika berhadapan dengan meja direksi perusahaan besar. Sebaliknya, alat pengawasan terlihat tajam ketika meredam aksi massa di lapangan. Asimetri ini memperkuat tuntutan para pensiunan bahwa pemerintah daerah harus berani memihak pada keadilan sosial.

Jika May Day 2026 masih meninggalkan tangis di Tolangohula, maka setiap butir gula yang diproduksi mengandung beban moral yang berat. Manisnya gula Gorontalo seakan menyimpan getir penderitaan manusia yang haknya tergerus selama tiga dekade. Negara dituntut hadir sekarang juga, sebelum sejarah mencatat keadilan sosial mati di dalam kuali raksasa pabrik gula Gorontalo.

Advertisement

Advertisement

Andika Ahmad

Jurnalis waktu.news yang bertugas sebagai reporter biro Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button