Melihat berita bahwa masih ada 113 ton sampah yang menumpuk di Bandung Raya hingga harus ditangani langsung oleh Gubernur Jawa Barat, saya sebagai mahasiswa biologi melihat ini bukan hanya masalah keterlambatan pengangkutan sampah, melainkan mencerminkan sistem pengelolaan sampah yang masih bersifat reaktif dari awal hingga akhir. Faktanya masalah ini selalu muncul setelah masa libur panjang menunjukkan pola yang berulang dan seharusnya sudah bisa diprediksi, bukan ditangani setelah tumpukan masalah sudah terlalu besar dan mengganggu kenyamanan warga. Selain itu, TPA Sarimukti yang menjadi tempat pembuangan akhir utama untuk Bandung Raya sudah lama dianggap melebihi kapasitasnya.
Sebagai mahasiswa biologi, saya menyadari adanya kesempatan yang bisa dimanfaatkan, khususnya di bidang sampah organik yang menjadi bagian terbesar, mulai dari sisa makanan di rumah hingga sampah dari pasar. Dengan membantu warga belajar membuat komposting rumahan, menanam maggot BSF (lalat hitam perang) untuk mengurai sampah organik pasar dan menghasilkan pakan untuk ternak. Jika program seperti ini dikembangkan dengan serius dan melibatkan banyak warga, volume sampah yang dibawa ke TPA bisa dikurangi cukup banyak sebelum akhirnya menumpuk menjadi masalah besar lagi.
Selain turut serta dalam aksi langsung, mahasiswa biologi juga memiliki peran dalam bidang penelitian dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Dengan turun ke area-area yang rentan seperti pasar tradisional atau daerah padat penduduk untuk mempelajari pengaruh tumpukan sampah terhadap kualitas tanah dan air di sekitarnya, sekaligus membantu warga dalam memilah sampah dari sumbernya. Data lapangan seperti ini dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah dalam merancang kebijakan pengelolaan sampah yang lebih tepat sasaran dan tidak lagi bersifat darurat.
Masalah ini tapi tidak akan cukup untuk menyelesaikan, jika tidak didukung dengan perubahan dari tingkat rumah tangga dan komunitas. Kebiasaan memilah sampah harus dimulai sejak dini dari dapur rumah tangga. Di titik ini, mahasiswa biologi bisa memberikan kontribusi nyata bukan hanya sebagai relawan yang membersihkan sampah saja, tapi sebagai penggerak solusi berbasis sains yang berkelanjutan, agar kejadian "113 ton sampah menumpuk" tidak terus terulang setiap kali masa libur panjang usai.