Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yaitu program yang memiliki tujuan positif karena tujuannya untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Namun, maraknya berita yang mengatakan sejumlah siswa mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi MBG dari program pemerintah, membuat kekhawatiran para orang tua dari murid terhadap keberlangsungan program ini. Karena kasus ini  menunjukkan bahwa aspek keamanan pangan pada MBG tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan gizi. Menurut saya sebagai mahasiswa Biologi murni, makanan yang akan dikonsumsi  siswa bukan hanya harus memenuhi kandungan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, tetapi juga makanan tersebut harus terbebas dari bahaya biologis, kimia, maupun fisik yang dapat menggangu kesehatann tubuh maupun metabolisme tubuh.

Dari sudut pandang biologi, salah satu hal yang menjadi perhatian, yaitu kemungkinan makanan terkontaminasi mikroorganisme patogen berupa bakteri seperti E-coli, Salmonella, ataupun mikroorganime lainnya apabila makanan tidak diolah, disimpan, atau didistribusikan dengan kondisi yang tepat. Salah satu contoh kasus yang terjadi sehingga diperlukan untuk uji laboratorium dan menemukan adanya kontaminasi bakteri Salmonella pada makanan yang dikonsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat proses pengolahan makanan harus memperhatikan kebersihan lingkungan, bahan, peralatan, SOP, suhu penyimpanan, serta lama makanan berada di suhu ruang sebelum dikonsumsi. Dengan demikian, keamanan pada pangan seharusnya menjadi hal terpenting yang harus diperhatikan, bukan hanya setelah terjadi masalah.

Menurut saya, kasus ini tidak seharusnya hanya dilihat sebagai suatu kesalahan pada makanan yang dikonsumsi, tetapi juga menjadi bahan evaluasi terhadap keseluruhan sistem. BGN pada September 2026 menyampaikan bahwa hasil pemetaan dan evaluasi internal menunjukkan sekitar 80%-90% kasus gangguan kesehatan yang di evaluasi berkaitan dengan SOP. Karena itu, pengawasan perlu dilakukan sejak pemilihan bahan baku , proses pengolahan, hingga makanan dikonsumsi siswa. Namun, sekolah juga memiliki peran penting sebagai lapisan pengawasan terakhir sebelum makanan dikonsumsi.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang akan dibagikan atau terpenuhinya komposisi gizi. Keberhasilan program juga harus dilihat dari keamanan makanan tersebut untuk dikonsumsi. BPOM dan BGN telah memperkuat kerja sama dalam pengawasan keamanan dan mutu pangan MBG, sementara BGN menegaskan bahwa keamanan pangan menjadi prioritas sebelum membicarakan aspek gizi. Sebagai mahasiswa Biologi, saya memandang bahwa penerapan ilmu Mikrobiologi , higiene sanitasi, dan pengendalian kualitas pangan perlu diperkuat dalam keberlangsungan pelaksanaan program MBG. Dengan pengawasan yang lebih ketat, tujuan MBG untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan generasi muda dapat berjalan dengan baik.