Sangkalan K4
- Keselamatan: Batu beterbangan bak peluru; pengendara motor bisa terpelanting kapan saja.
- Keamanan: Jalan umum berubah arena Russian roulette - apakah ban Anda menghantam kerikil atau selamat?
- Kesehatan: Debu silika menelusup paru-paru anak-anak; efek laten yang tak tertagih di nota keuntungan.
- Keberlanjutan: Aspal seumur jagung digerus habis; uang pajak rakyat terbakar tanpa upacara.
K4 mereka ibarat baju seragam tanpa tubuh: dipamerkan di lobi, hilang di lapangan. Ini bukan abai - ini sengaja. Saat modal rela mengorbankan nyawa potensial demi margin, kita tak lagi bicara kelalaian, tapi premeditasi ketidakpedulian.
Tak perlu insinyur sipil untuk memahami: lapisan hot-mix yang baru “matang” belum sempat mengikat kuat ketika digerus roda ODOL ditambah gesekan batu lepas. Mikro-retak menjalar; bisa jadi depan rumah warga akan muncul gelombang. Dana miliaran rupiah, diambil dari APBD, terancam lenyap sebelum puas dipakai warga dan menghasilkan PAD. Besok lusa, tanpa menutup kemungkinan Dinas PUPR akan kembali mengajukan anggaran tambal sulam.Kerikil itu kecil, tapi simbol kelalaian besar. Setiap batu yang jatuh membawa cerita tentang ego korporasi, abainya pengawas, dan diamnya publik. Jika kita biarkan, tak lama lagi yang tersisa hanya jalan berlubang, udara berdebu, dan rasa percaya yang runtuh.
Perusahaan menuai laba per rit kerikil, masyarakat menuai pungutan in-kind: waktu, tenaga, kemarahan - bahkan potensi luka.
Kerikil di jalan hari ini bisa menjadi batu nisan besok. Kita dilarang menunggu tragedi untuk memperoleh keberanian. Kalau regulator beku, publik harus mendidih: foto, laporkan, viralkan. Perusahaan bisa mengganti aspal, tapi tak akan pernah bisa membeli kembali nyawa yang hilang atau menambal reputasi yang robek.
Penulis adalah Ketua Serikat Pers Republik Indonesia Cabang Bolmut.