PT Brantas Abipraya melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi dampak debu dari aktivitas pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolaang Mongondow Timur (Boltim), di antaranya melalui sistem penyiraman otomatis dan pemasangan paranet di sekitar rumah sakit.

Upaya tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan proyek konstruksi terintegrasi rancang bangun RSUD Boltim melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Batch 4.

Humas PT Brantas Abipraya, Catur Alpin, mengatakan sistem penyiraman otomatis dipasang pada akses masuk dari samping RSUD Boltim menuju lokasi proyek untuk mengurangi paparan debu.

"Dalam upaya untuk menjaga lingkungan tetap baik dari paparan debu, kami telah melakukan pemasangan sistem penyiraman otomatis," ujar Catur.

Selain itu, perusahaan juga memasang paranet di sekitar bangunan rumah sakit yang masih beroperasi untuk membantu mengurangi dampak debu dari aktivitas konstruksi.

BACA JUGA
Upaya perlindungan di lokasi proyek ini juga berjalan bersama penerapan standar ISO RSUD Boltim yang mengatur keselamatan kerja dan pengendalian mutu.

"Dan kami juga telah melakukan pemasangan paranet di sekitaran rumah sakit eksisting," katanya.

Paranet di sekitar bangunan RSUD Boltim untuk membantu mengurangi dampak debu.
Keterangan Foto: Tampak paranet terpasang di sekitar bangunan rumah sakit yang masih beroperasi untuk membantu mencegah dampak debu konstruksi.

Direktur RSUD Boltim, dr. Roynald S. Maramis, mengatakan pihak rumah sakit telah mengingatkan perusahaan mengenai persoalan debu. Ia menyebut perusahaan telah melakukan sejumlah upaya, termasuk penyiraman secara berkala dan pengecoran akses masuk yang sebelumnya masih berupa tanah.

"Kami juga mengingatkan itu. Dan perusahaan juga sudah melakukan upaya sampai mereka mengecor supaya tidak tanah lagi, tidak debu lagi, sudah melakukan penyiraman pagi, siang, sore," kata Roynald.

Roynald menilai, cuaca panas menjadi salah satu tantangan dalam mengendalikan debu. Meski penyiraman dilakukan berulang kali, kondisi tersebut masih berpotensi menimbulkan debu. Oleh karena itu, kata dia, koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk mengurangi dampaknya.

"Sudah banyak upaya yang dibuat, karena ini juga musim panas. Dan walaupun disiram berapa puluh kali, ya, namanya musim panas bukan cuma di rumah sakit, di jalan umum, di mana pun. Tapi memang PT Brantas telah berkoordinasi dengan kami, dengan Desa Sumber Rejo, Sangadinya, masyarakat sekitar untuk mengurangi dampak debu. Dan akan terus begitu, mereka akan tingkatkan upaya-upaya itu," ujarnya.

Roynald menegaskan pembangunan rumah sakit tetap perlu memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar dan aktivitas pelayanan kesehatan.

Ia mengatakan pihak rumah sakit mendukung pembangunan fasilitas kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Boltim. Namun, upaya meminimalkan dampak selama pekerjaan konstruksi juga perlu terus dilakukan.

"Namanya proyek, mau di mana pun ada pembangunan pasti ada kebisingan dan lain hal. Tapi, kan ini dari Kemenkes dan pemerintah pusat. Perusahaan sudah berusaha dan berupaya untuk meminimalkan semua, ada langkah-langkah. Kami tidak pernah menghalangi, karena kami juga yang minta ini berdiri di Bolaang Mongondow Timur rumah sakit yang lebih bagus. Tetapi, kami juga jaga bersama dampak-dampak yang akan timbul," tutupnya. (aah)