Sejarah Mokapog mencatat proses pembentukan sebuah tatanan masyarakat melalui musyawarah yang disebut bakid atau bokiru pada awal abad ke-17.

Dalam musyawarah itu, para leluhur mendeklarasikan “Negeri Mokapog” dan memilih Dotinggulo atau “Dotu Tinggulu” sebagai Dotu atau raja.

Proses tersebut digambarkan sebagai bentuk demokrasi sederhana. Melalui musyawarah, masyarakat menetapkan wilayah, sistem pemerintahan, dan pemimpin.

Sumber menyebut warga Mokapog pada awalnya bukan kelompok homogen. Mereka merupakan gabungan Madihutu atau pribumi di sekitar Lagang Kadul dengan kelompok yang berasal dari lereng Gunung Kabila, Dumoga, Molibagu, dan Doluduo.

Kelompok-kelompok tersebut kemudian menyatukan diri dalam sebuah identitas bersama. Mokapog digambarkan sebagai wadah yang menghimpun dan melebur berbagai kelompok menjadi satu kesatuan.

Istilah “Mohokapogu” dalam materi sumber dimaknai sebagai berhimpun dan menjadi cerah.

Dotinggulo Terpilih sebagai Dotu Pertama

Dotinggulo terpilih sebagai Raja atau Dotu pertama Negeri Mokapog setelah memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan di antara pimpinan kelompok yang mengikuti bakid atau bokiru.

Dalam perkembangannya, Dotinggulo dikenal dengan nama “Dotutinggulu”.

Materi sumber menggambarkannya sebagai pemimpin yang bijaksana dalam membina Kedatuan Mokapog. Ia juga disebut memiliki kemampuan dalam pengobatan tradisional.

Dalam musyawarah tersebut, sejumlah tokoh turut menyampaikan pandangan.

Kahinga, yang disebut sebagai tokoh tertua, menyampaikan seruan dalam bahasa Bolangitang Lama:

“Mairu kita nita mososobotu kania botu, motomuki, agu motonotu.”

Materi sumber menerjemahkan kalimat itu sebagai ajakan untuk bersatu seperti sebuah batu serta mengangkat permaisuri dan raja.

Pugu-Pugu, saudara laki-laki Dotinggulo, juga berbicara dalam pertemuan tersebut.

Dotinggulo kemudian menyampaikan pesan kepada orang-orang tua dan masyarakat agar memiliki hati yang bersih, beritikad baik, jujur, lapang dada, serta tidak memiliki rasa dengki dan iri.

Setelah terpilih, Dotinggulo membentuk organisasi pemerintahan dengan pembagian tugas kepada sejumlah pejabat.

Susunan Pemerintahan Kedatuan Mokapog

Dalam susunan pemerintahan yang disebut dalam sumber, Dotinggulo menempati posisi Ketua, Dotu, atau Raja.

BACA JUGA
Setelah mengulas peran Dotinggulo dalam pemerintahan Mokapog, pembahasan beralih pada produksi tangkap ikan Bolaang Mongondow Timur 2025 yang mencatat rekor baru.

Dulunga menjabat Panglima atau Jogugu. Ginibola menjabat Kepala Perang atau Panggoba.

Baguna menjadi Penasehat Raja atau Talenga, sedangkan Pongoliu menjadi Penguasa Pulau/Laut atau Gumalaha.

Monimuluru bertugas sebagai Penjaga Istana atau Pengawal Utama. Limbudiso menjadi Penguasa Adat atau Huku.

Pelaksanaan pemerintahan harian dijalankan Gula sebagai Sangadi.

Kudahati menempati posisi Ajudan Raja atau Kapita, sementara Pasigu menjadi Kepala Pasukan atau Kapita Raja.

Lantiuna menjadi Sangadi Balok A sekaligus Kapiten Laut atau Kapita Lau serta disebut turut bertindak sebagai juru bahasa.

Bolulipu menjadi Sangadi Balok B dengan tugas sebagai Penguasa Hutan.

Untuk urusan adat, Dauwidadawa disebut sebagai Kepala atau Ahli Adat di Longano/Lombopaito, sedangkan Ponuako bertugas di Soligiru/Gineango.

Materi juga mencatat bahwa beberapa pejabat pemerintahan bukan berasal dari kelompok asli Mokapog atau Madihutu.

Nama yang disebut antara lain Lantiuna, Ginibola, dan Baguna.

Hal tersebut dalam sumber dipandang sebagai bentuk pertimbangan Dotinggulo terhadap kecakapan seseorang, tidak semata-mata berdasarkan asal-usul.

Mokapog Dibagi Menjadi Tiga Wilayah

Selain struktur pemerintahan, Dotinggulo disebut menunjuk pejabat yang memegang wilayah tertentu.

Solagu memegang kuasa pemerintahan dari Mokapog menuju hulu Sungai Bolangitang dan berkedudukan di Gunung Lagu.

Mokapog kemudian dibagi menjadi tiga wilayah atau balok.

Balok Lagang atau Lagongo, bagian atas, dipimpin Longgobu yang berkedudukan di Vuntu atau Gunung Lagongo.

Toluaya sebagai wilayah bagian tengah dipimpin Jacob Goma yang berkedudukan di Gunung Giogoso dan menguasai wilayah tanah datar.

Vunong atau Vunongo sebagai bagian bawah dipimpin Lei yang berkedudukan di Gunung Butu–Tobiho.

Para kepala wilayah tersebut disebut Ulea dan kemudian juga disebut Marsaoleh.

Jabatan dalam Pemerintahan Mokapog

Materi sejarah turut menjelaskan sejumlah istilah jabatan dalam struktur pemerintahan.

“Bobato” digunakan untuk menyebut seluruh pejabat, anggota kabinet, atau Dewan Pemerintahan.

“Dotu” berarti raja, kepala pemerintahan, atau penguasa tertinggi.

“Peresidengo” atau Presiden Raja disebut sebagai Putra Mahkota atau Raja Muda yang berkedudukan di Vunong.

“Kapita Lau” merupakan penguasa lautan atau pimpinan angkatan laut.

“Parango” disebut sebagai kepala pasukan atau panglima perang.

Sementara “Ulea” atau Marsaoleh merupakan kepala Balak yang menjadi tempat rakyat meminta petunjuk dan nasihat.

“Sangadi” merupakan kepala wilayah pemerintahan yang lebih kecil dari Balak.

Di bawah Sangadi terdapat “Paha” atau “Bono”, yakni petugas pemerintahan yang berhubungan langsung dengan rakyat.

Sumber juga mencatat jabatan lain seperti Manyoru Dokalo, Manyoru, Huku Manyoru, dan Sabandaru atau Syahbandar.

Para pejabat tersebut mendampingi raja sesuai urusan dan tanggung jawab masing-masing.