Seni Budaya

Sejarah Kerajaan Bintauna dan Susunan Nama Raja

Sejarah kerajaan Bintauna berasal dari Vintauna yang terdiri dari dua kata, Vinta dan Una, Vinta artinya Bintang dan Una atau Owuna-Wuna artinya Terdahulu, sehingga Vintauna di maknai sebagai Bintang Lebih Dahulu.

Dalam versi lain, Vintauna adalah berasal dari Panggilan Istri dan Suami dari manusia pertama kali yang mendiami Negeri Huntuo yaitu Vai Vaunia dan Pai Sahaya.

Suami Sahaya memanggil istrinya dengan kata Vinta yang berarti Bintang dan Istri memanggil sang suami sengan panggilan Una artinya terdahulu.

Huntuo adalah Bahasa Bintauna yang merupakan kata asal dari Huntuk yang sekarang ini menjadi nama salah satu Desa di Kecamatan Bintauna. Kata Huntuo berasal dari kata Puntuo yang artinya suatu benda yang terletak di atas benda lain yang mengandung arti sebagai Topi Kecil Yang Terletak Di Atas Kepala Besar yang maksudnya Suatu Tempat Yang Terletak pada atas Panggung Gunung Sehingga Kelihatan Lebih Tinggi Dari Tempat Lain.

Masa Sejarah Kerajaan Bintauna

Sejarah Kerajaan Bintauna asal mulanya dalam wilayah Pemerintahan Afdeling Gorontalo karena pada masa VOC Bintauna merupakan satu Marsaoleh-schar yaitu Wilayah Pemerintahan yang di kepalai oleh seorang Marsaoleh (Ulea) dari Kerajaan Suwawa.

Dalam perkembangannya kemudian Raja Kerajaan Bintauna melepaskan diri dari kerajaan Bone atau Suwawa yang kemudian membentuk kerajaan sendiri dengan nama Vintauna.

Artikel Terkait: Sejarah Kotamobagu Ke 111 Tahun, Pusat Penyatuan Etnik Utama 4 Kerajaan

Dalam status sebagai kerajaan, mula-mula Bintauna terdiri dari dua kelompok masyarakat yang masing-masing mempunyai wilayah sendiri dan berbeda dari sisi agama dan kepercayaanya yakni :

  1. Kelompok masyarakat bagian utara yakni kelompok Heinden yang menganut kepercayaan Animisme karena menyembah batu atau pohon.
  2. Kelompok masyarakat bagian selatan yang menganut kepercayaan Agama Islam.

Latar belakang perbedaan agama dan kepercayaan inilah menyebabkan sehingga kelompok masyarakat tersebut saling memisahkan diri yakni kelompok masyarakat bagian selatan yang memeluk agama islam melepaskan diri dari Kerajaan Bintauna dan bergabung kembali dengan Kerajaan Suwawa.

Dengan demikian Kerajaan Bintauna dalam perkembangan selanjutnya adalah sebagian dari Kerajaan yang Penduduknya Menyembah atau Menganut Kepercayaan Animisme.

Dalam perkembangan selanjutnya Masyarakat Bintauna yang di ikat Adat Kerajaan Bintauna pada waktu itu sudah mulai mengenal Agama di buktikan dengan Makam Pendeta Talahatu dan Istrinya di kompleks Makam Raja Pertama yakni Makam Paduka Raja Mooreteo yang makamnya bentuknya hampir sama dengan bentuk Bangunan Gereja atau Kahera Konon Raja Pertama ini dikubur di dalam Gereja ini menunjukan bahwa pada masa Kerajaan Bintauna pada awalnya masyarakatnya sudah menganut Agama Kristen.

Paduka Raja Mooreteo dalam melaksankan tugas sebagai pemimpin bagian rakyatnya di Raa Minanga senantiasa di dampingi istrinya bernama Vua Tebo yang dari hasil perkawinannya di anugrahi seorang anak yang bernama Datu.

Dalam perkembangan selanjutnya setelah Paduka Raja Mooreteo meninggal maka di nobatkanlah anak dari Mooreteo Dan Vua Tebo menjadi Raja Kedua yakni Paduka Raja Datu.

Karena Datu di angkat jadi Raja maka rakyat Kerajaan pada waktu itu mengatakan bahwa Datu Rono Salako yang artinya Datu Sudah Menjadi Raja Besar atau menjadi Raja maka berubahlah nama Datu menjadi Datunsolang yang kemudian nama itu menjadi Marga keturunan Raja Raja Bintauna selanjutnya.

Pada masa Paduka Raja Datu Negeri Kerajaan yang bertempat di Raa Minga pindah di suatu tempat yang bernama Lasako atau Vaya Sangki.

Artikel Terkait: Sejarah Mokapog dan Susunan Kerajaannya

1 2 3Laman berikutnya

Redaksi Waktu

Berita yang masuk di Email, Whatapps dan Telegram Redaksi akan di Edit terlebih dahulu oleh Tim Editor Media Waktu.news kemudian di publish.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button