TOMOHONLomba Bercerita Bahasa Tombulu memeriahkan rangkaian Tomohon International Flower Festival 2026, Senin, 10 Agustus 2026.

Pemerintah Kota Tomohon menggelar kegiatan tersebut di GOR Babe Palar dengan melibatkan pelajar tingkat SD dan SMP.

Melalui lomba ini, generasi muda mendapat ruang untuk mengenal, menggunakan, dan mencintai Bahasa Tombulu.

Iklan

Artikel Terkait
Rangkaian kebudayaan ini menjadi bagian dari TIFF 2026, sementara jadwal pelaksanaan TIFF 2026 mencakup 7–12 Agustus dengan 36 kendaraan hias sebagai rekor peserta.

Selain itu, kegiatan tersebut mendorong pelestarian budaya lokal melalui proses pendidikan yang menyenangkan.

Wali Kota Tomohon Caroll Senduk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan agenda budaya tersebut.

Staf Ahli Wali Kota Ronald Kalesaran hadir mewakili Caroll dalam kegiatan itu.

Artikel Terkait
Selain agenda budaya tersebut, Lomba inovasi Boltara 2026 diikuti 18 inovasi dari perangkat daerah, UPTD, pemerintah desa, dan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tomohon Juliana Dolvin Karwur turut mendampingi rangkaian acara.

Ronald menilai aktivitas bercerita memiliki peran penting bagi perkembangan kecerdasan dan karakter anak.

Menurutnya, kemampuan bercerita dapat membantu pelajar mengembangkan keberanian, kreativitas, serta kemampuan berkomunikasi.

Namun, Lomba Bercerita Bahasa Tombulu memiliki nilai lebih karena menggunakan bahasa daerah sebagai media utama.

Artikel Terkait
Selain pendidikan budaya di Tomohon, data pendidikan Islam di daerah lain Sulawesi Utara juga tercatat dalam artikel tentang Madrasah Aliyah di Bolaang Mongondow Utara.

Ketika anak menggunakan Bahasa Tombulu, mereka sekaligus mempelajari akar budaya masyarakatnya.

Karena itu, pemerintah mendorong sekolah terus memperkenalkan bahasa daerah kepada generasi muda.

Bahasa Tombulu Menjadi Jembatan Mengenal Identitas Budaya

Ronald mengatakan bahasa daerah menyimpan berbagai nilai yang membentuk kehidupan masyarakat.

Di dalamnya terdapat sejarah, ingatan kolektif, norma, sopan santun, dan kearifan lokal.

Selain itu, bahasa menjadi sarana untuk mewariskan pengalaman antargenerasi.

Generasi muda dapat memahami identitas masyarakat melalui cerita yang berkembang di lingkungan mereka.

Melalui Lomba Bercerita Bahasa Tombulu, pelajar tidak hanya berkompetisi untuk menjadi pemenang.

Sebaliknya, mereka berlatih menggunakan bahasa daerah dalam situasi yang kreatif dan komunikatif.

Proses tersebut membantu anak membangun rasa percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang.

Selain itu, peserta dapat mempelajari kosakata dan cara penyampaian cerita yang lebih baik.

Ronald menilai kegiatan itu dapat memperkuat jati diri generasi muda Kota Tomohon.

Menurutnya, kecintaan terhadap budaya perlu tumbuh sejak anak berada di bangku sekolah.

Karena itu, pendidikan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlangsungan Bahasa Tombulu.

Sekolah dapat menghadirkan bahasa daerah melalui pembelajaran, pertunjukan, cerita rakyat, maupun kompetisi.

Sementara itu, keluarga juga memegang peran penting dalam penggunaan bahasa sehari-hari.

Apabila anak jarang mendengar Bahasa Tombulu, kemampuan berbahasa dapat berkurang secara perlahan.

Karena itu, pelestarian membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, pemerintah, dan komunitas budaya.

Kegiatan seperti Lomba Bercerita Bahasa Tombulu dapat menjadi pemantik penggunaan bahasa secara lebih luas.

TIFF 2026 Beri Ruang untuk Pendidikan dan Kebudayaan

Kehadiran lomba tersebut memperluas warna Tomohon International Flower Festival 2026.

TIFF tidak hanya menampilkan bunga, pariwisata, dan berbagai pertunjukan untuk pengunjung.

Festival juga memberikan ruang bagi pendidikan dan pelestarian kebudayaan lokal.

Dengan demikian, masyarakat dapat melihat hubungan antara pariwisata dan identitas daerah.

Bahasa Tombulu menjadi salah satu kekayaan budaya yang dapat memperkuat karakter Kota Tomohon.

Selain itu, cerita berbahasa daerah dapat memperkenalkan sejarah dan nilai masyarakat kepada generasi berikutnya.

Kegiatan semacam ini juga dapat membantu anak mengenal cerita rakyat dari lingkungannya sendiri.

Selanjutnya, mereka dapat menyampaikan kembali cerita tersebut dengan gaya yang lebih kreatif.

Pemkot Tomohon berharap pelajar tidak merasa asing terhadap bahasa yang tumbuh dalam masyarakat.

Sebaliknya, generasi muda perlu bangga menggunakan Bahasa Tombulu pada ruang yang sesuai.

Kebanggaan tersebut penting karena pelestarian tidak cukup hanya melalui dokumentasi.

Bahasa akan tetap hidup ketika masyarakat terus menggunakannya dalam komunikasi dan kegiatan budaya.

Lomba Bercerita Bahasa Tombulu juga menjadi cara untuk mendekatkan kebudayaan kepada anak tanpa pendekatan yang kaku.

Kompetisi menciptakan suasana belajar yang lebih menarik sekaligus memberikan pengalaman kepada peserta.

Selain kemampuan bahasa, anak dapat melatih ekspresi, intonasi, dan penguasaan panggung.

Kemampuan tersebut mendukung perkembangan komunikasi mereka dalam berbagai aktivitas pendidikan.

Pelajar Diharapkan Menjadi Penerus Bahasa Tombulu

Pemerintah Kota Tomohon menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam keberlanjutan budaya lokal.

Anak-anak yang memahami bahasa daerah dapat menjadi penerus nilai dan pengetahuan masyarakat.

Karena itu, pendidikan budaya perlu berlangsung secara konsisten dan tidak hanya pada momentum festival.

Sekolah dapat mengembangkan berbagai kegiatan lanjutan setelah Lomba Bercerita Bahasa Tombulu selesai.

Misalnya, pelajar dapat mengikuti kegiatan menulis cerita, membaca sastra, atau pertunjukan menggunakan Bahasa Tombulu.

Selain itu, komunitas budaya dapat bekerja sama dengan sekolah untuk menghadirkan penutur dan pelaku budaya.

Kolaborasi tersebut akan memperkaya pengalaman belajar generasi muda.

Orang tua juga dapat membantu dengan memperkenalkan kosakata dan percakapan sederhana di rumah.

Dengan begitu, anak memperoleh ruang praktik di luar lingkungan sekolah.

Pelestarian bahasa membutuhkan penggunaan yang terus berulang dalam kehidupan masyarakat.

Semakin sering generasi muda menggunakannya, semakin besar peluang Bahasa Tombulu tetap bertahan.

Pada akhirnya, Lomba Bercerita Bahasa Tombulu bukan sekadar kompetisi dalam rangka TIFF 2026.

Kegiatan tersebut menjadi upaya mempertemukan pendidikan, bahasa, sejarah, dan identitas generasi muda Tomohon.