Kondisi bangunan Masjid di Desa Iyok, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, belum memiliki atap. (Foto waktu.news)[/caption]
"Sebetulnya, e artinya tidak mungkin juga saya mengatur masyarakat pergi mengambil kayu bundar untuk dibikin penyangga segala macam di situ, bambu. Sedangkan itu saya yang ambil alih langsung, sudah saya langsung yang panggil teman-teman yang saya bisa atur, orang dalam rumah, pergi memotong kayu, memotong bambu. Cuma itu kendalanya," ujar Abdurahman Ambarak saat dihubungi wartawan melalui telepon WhasApp.
Abdurahman juga menambahkan bahwa pembangunan masjid tersebut sudah mencapai tahapan penting, dan diperkirakan akan kembali dilanjutkan dalam waktu dekat.
"Kemudian, insyaallah mungkin pekan depan akan mulai. Itu sudah kasih naik bata, sudah pakai ring balok di atas. A tinggal ring balok dari dinding ke tiang alif, tinggal itu pekerjaan kami yang agak susah kami ini, cuman kendalanya kayu bundar yang menjadi penyangga untuk steling segala macam," katanya.
Lebih lanjut, Abdurahman menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari pemerintah desa, sehingga kewenangan untuk mengatur masyarakat dalam pengadaan material bukan berada di tangannya.
"Kan tahu sendiri, kalau semacam saya tidak bisa mengatur, karena saya bukan bagian dari pemerintah (Pemdes) kan. Itu kan urusan pemerintah yang mengatur. A cuma sudah konsultasi dengan Sangadi (Kades), Sangadi sampaikan selesai ketupa baru kita terus," jelasnya.
Terkait anggaran, Abdurahman memastikan bahwa semua bahan dan dana yang diperlukan masih tersedia. Saldo kas panitia saat ini menurutnya masih mencukupi.
"Kalau bahan semua ada, uang ada. Saldo kita masih ada sekitar 80 juta. Kemudia besi ada, triplek yang akan dipakai buat mal, kayu. Sedangkan apanya itu, yang di atas itu, kayu cempaka itu sudah, sudah dibayar, tinggal dua kubik yang mereka belum antar. Itu Kamal di Matabulu, dua kubik mereka sudah antar, itu delapan dua belas. Tinggal lima sepuluh," terang Abdurahman.
Selain itu, Abdurahman membantah informasi yang menyebut dana hasil pengumpulan dari kantin mencapai lebih dari Rp100 juta. Menurutnya, jumlah dana yang dikumpulkan dari kantin lebih rendah dari angka yang beredar.
"Kalau uang yang hari itu di, yang pertama modal awal itu 150 juta kan, kemudian di kumpul-kumpul di kantin kurang lebih 70-an juta. Tidak sampai seratus," kata Abdurahman Ambarak menepis informasi yang menyebut bahwa katanya dana yang masuk ke Kantin sekitar 100 juta lebih," katanya.
Tak cuma itu, Abdurahman pun menepis kabar bahwa dana dari kantin dikelola sepenuhnya oleh istri kepala desa atau ibu Sangadi. Ia menegaskan bahwa dana kantin tetap dikelola panitia.
"Tidak. Ada di panitia, ada di saya. Kecuali terakhir ini mereka menagih selesai hari raya, itu dua kali mereka tidak setor ke saya, cuma yang 250 ribu," ujarnya.
Abdurahman pun menargetkan pembangunan selesai. Ia bahkan mengaku pengatapan masjid akan selesai sebelum Hari Raya Idul Adha.
"Insyaallah ini kalau kelar, sekalian. Kan masih banyak anggarannya itu, tapi tutup kap insyaallah sebelum hari raya haji (idul adha) ya," tutup Abdurahman Ambarak. (aah)
Kondisi bangunan Masjid di Desa Iyok, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, belum memiliki atap. (Foto waktu.news)[/caption]
"Sebetulnya, e artinya tidak mungkin juga saya mengatur masyarakat pergi mengambil kayu bundar untuk dibikin penyangga segala macam di situ, bambu. Sedangkan itu saya yang ambil alih langsung, sudah saya langsung yang panggil teman-teman yang saya bisa atur, orang dalam rumah, pergi memotong kayu, memotong bambu. Cuma itu kendalanya," ujar Abdurahman Ambarak saat dihubungi wartawan melalui telepon WhasApp.
Abdurahman juga menambahkan bahwa pembangunan masjid tersebut sudah mencapai tahapan penting, dan diperkirakan akan kembali dilanjutkan dalam waktu dekat.
"Kemudian, insyaallah mungkin pekan depan akan mulai. Itu sudah kasih naik bata, sudah pakai ring balok di atas. A tinggal ring balok dari dinding ke tiang alif, tinggal itu pekerjaan kami yang agak susah kami ini, cuman kendalanya kayu bundar yang menjadi penyangga untuk steling segala macam," katanya.
Lebih lanjut, Abdurahman menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari pemerintah desa, sehingga kewenangan untuk mengatur masyarakat dalam pengadaan material bukan berada di tangannya.
"Kan tahu sendiri, kalau semacam saya tidak bisa mengatur, karena saya bukan bagian dari pemerintah (Pemdes) kan. Itu kan urusan pemerintah yang mengatur. A cuma sudah konsultasi dengan Sangadi (Kades), Sangadi sampaikan selesai ketupa baru kita terus," jelasnya.
Terkait anggaran, Abdurahman memastikan bahwa semua bahan dan dana yang diperlukan masih tersedia. Saldo kas panitia saat ini menurutnya masih mencukupi.
"Kalau bahan semua ada, uang ada. Saldo kita masih ada sekitar 80 juta. Kemudia besi ada, triplek yang akan dipakai buat mal, kayu. Sedangkan apanya itu, yang di atas itu, kayu cempaka itu sudah, sudah dibayar, tinggal dua kubik yang mereka belum antar. Itu Kamal di Matabulu, dua kubik mereka sudah antar, itu delapan dua belas. Tinggal lima sepuluh," terang Abdurahman.
Selain itu, Abdurahman membantah informasi yang menyebut dana hasil pengumpulan dari kantin mencapai lebih dari Rp100 juta. Menurutnya, jumlah dana yang dikumpulkan dari kantin lebih rendah dari angka yang beredar.
"Kalau uang yang hari itu di, yang pertama modal awal itu 150 juta kan, kemudian di kumpul-kumpul di kantin kurang lebih 70-an juta. Tidak sampai seratus," kata Abdurahman Ambarak menepis informasi yang menyebut bahwa katanya dana yang masuk ke Kantin sekitar 100 juta lebih," katanya.
Tak cuma itu, Abdurahman pun menepis kabar bahwa dana dari kantin dikelola sepenuhnya oleh istri kepala desa atau ibu Sangadi. Ia menegaskan bahwa dana kantin tetap dikelola panitia.
"Tidak. Ada di panitia, ada di saya. Kecuali terakhir ini mereka menagih selesai hari raya, itu dua kali mereka tidak setor ke saya, cuma yang 250 ribu," ujarnya.
Abdurahman pun menargetkan pembangunan selesai. Ia bahkan mengaku pengatapan masjid akan selesai sebelum Hari Raya Idul Adha.
"Insyaallah ini kalau kelar, sekalian. Kan masih banyak anggarannya itu, tapi tutup kap insyaallah sebelum hari raya haji (idul adha) ya," tutup Abdurahman Ambarak. (aah)
Dukung Jurnalisme Waktu.News
Dukungan pembaca membantu Waktu.News terus menghadirkan kerja jurnalistik untuk masyarakat.
Dukungan dari artikel ini tercatat sebagai apresiasi terhadap karya jurnalistik Abdul Agus Heydemans.
Dukungan tidak memengaruhi independensi, isi, sudut pandang, maupun keputusan editorial Waktu.News.