KOTAMOBAGU – Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, SE, mendorong generasi muda Bolaang Mongondow Raya mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.

Menurut Yulius, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Perguruan tinggi dan generasi muda perlu terlibat dalam kolaborasi untuk menghadirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan saat Kuliah Umum Perguruan Tinggi se-BMR di Hotel Sutanraja Kotamobagu, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan mengangkat tema “Peran Generasi Muda BMR dalam Mewujudkan Sulawesi Utara Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan.”

“Jangan berhenti pada gelar. Jadilah generasi yang bekerja, berkarya, berintegritas, berani menciptakan peluang, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” pesan Yulius.

BACA JUGA
Dalam isu lain di Sulut, Yulius juga meminta penyuluh pertanian meningkatkan kewaspadaan menghadapi El Niño ekstrem Sulawesi Utara.

Sulut Bidik Posisi Strategis di Asia Pasifik

Dalam paparannya, Yulius menjelaskan Sulawesi Utara memiliki posisi geografis strategis di bibir Samudera Pasifik.

Sulut memiliki luas wilayah 64.965,48 kilometer persegi, dengan sekitar 77,69 persen berupa wilayah laut.

Provinsi ini juga memiliki 382 pulau, terdiri dari 57 pulau berpenghuni dan 325 pulau tidak berpenghuni. Dari jumlah tersebut, 12 merupakan pulau terluar.

Menurut Yulius, posisi tersebut membuka peluang Sulut berkembang sebagai pusat perdagangan, super hub, sekaligus pintu gerbang Indonesia menuju Asia Timur dan Pasifik.

BACA JUGA
Pembahasan pembangunan Sulawesi Utara juga mencakup penjelasan Yulius mengenai Penanganan Jalan Rusak Sulawesi Utara yang mengikuti mekanisme penganggaran dan tahapan pemerintahan.

Arah itu menjadi bagian dari visi RPJPD Sulut 2025–2045 yang menempatkan Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang Indonesia ke Asia dan Pasifik yang mandiri, maju, dan berkelanjutan.

Sementara RPJMD 2025–2029 mengusung visi “Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan.”

Ekonomi Tumbuh, Pengangguran Masih Jadi Tantangan

Yulius juga memaparkan sejumlah indikator pembangunan Sulut hingga Triwulan II 2026.

Pertumbuhan ekonomi Sulut tercatat 5,42 persen. Indeks Pembangunan Manusia pada 2025 mencapai 76,32, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 75,90.

Angka kemiskinan Sulut tercatat 6,32 persen, sedangkan angka nasional sebesar 8,47 persen.

Untuk Gini Ratio, Sulut berada di angka 0,344, lebih rendah dibandingkan nasional 0,368.

Meski demikian, Yulius mengakui penciptaan lapangan kerja masih menjadi pekerjaan rumah.

Tingkat Pengangguran Terbuka Sulut pada Triwulan II 2026 mencapai 5,85 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional 4,85 persen.

“Ini menunjukkan Sulawesi Utara masih perlu mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan merata,” demikian poin yang disampaikan Gubernur.

Inflasi Sulut pada Triwulan II 2026 disebut berada di angka 2,53 persen, lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 2,92 persen.

Pendidikan hingga Infrastruktur Dipaparkan

Di sektor pendidikan, Pemprov Sulut memperkuat sumber daya manusia melalui SMA Taruna Nusantara Langowan dan revitalisasi 50 sekolah.

Pada sektor kesehatan, pemerintah mempercepat penanganan stunting, peningkatan akses rumah sakit rujukan, distribusi obat, dan pemerataan tenaga medis hingga wilayah pelosok.

Sementara di bidang ketenagakerjaan, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal didorong melalui program upskilling di Balai Latihan Kerja.

“SDM daerah harus disiapkan agar mampu memenangkan persaingan kerja di sektor industri dan jasa, baik nasional maupun global,” tegas Yulius.

Pemerintah juga mendorong konektivitas melalui tambahan rute penerbangan internasional, termasuk Manado–Korea dan Manado–China.

Di bidang olahraga dan sport tourism, program diarahkan pada revitalisasi Kolam Renang Ranowangun, Pacuan Kuda di Minahasa, serta upaya membangkitkan kembali sepak bola daerah.

Sektor budaya dan pariwisata turut mencakup revitalisasi Museum Provinsi, Bukit Kasih, dan Sumaru Endo.

Untuk sektor energi, pemerintah menargetkan pemerataan listrik 1×24 jam hingga pulau terluar dan wilayah pelosok.

Pada bidang infrastruktur, pemerintah membangun sejumlah ruas jalan strategis untuk mendukung mobilitas dan rantai pasok.

Ruas yang disebut antara lain Pinogaluman–Dumoga, Dondomon–Mopuya Utara II, Dumoga–Pinonobatuan I dan II, Tombulang Pantai–Tontulow Utara, serta Dalapuli–Dalapuli Barat.

Lulusan Diminta Tidak Hanya Menjadi Pencari Kerja

Khusus kepada mahasiswa dan wisudawan, Yulius meminta ilmu serta keterampilan yang diperoleh selama pendidikan digunakan untuk menjawab persoalan di masyarakat.

Para lulusan juga didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi berani menciptakan lapangan pekerjaan melalui kewirausahaan dan inovasi.

Ia turut mengingatkan pentingnya menghargai orang tua dan keluarga atas dukungan selama menempuh pendidikan.

“Wisuda bukan akhir. Dunia berubah cepat. Karena itu teruslah belajar, beradaptasi, membangun mental yang tangguh dan jangan takut gagal,” pesannya.

Yulius juga menekankan pentingnya integritas, etika, disiplin, dan kepedulian sosial.

“Ilmu yang tinggi harus berjalan bersama karakter,” katanya.

Menutup kuliah umum, ia mengajak generasi muda dan perguruan tinggi BMR memperkuat kolaborasi dalam pembangunan Sulut.

“Mari bersama membangun daerah, menuju Sulawesi Utara maju, sejahtera dan berkelanjutan,” pungkasnya.