Masalah sampah kembali menjadi perhatian setelah terjadinya longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang pada 8 Maret 2026. Saat itu, tumpukan sampah longsor ketika beberapa truk sedang mengantre untuk membuang muatan. Kejadian tersebut menyebabkan 13 orang menjadi korban, dengan tujuh orang meninggal dunia dan enam lainnya selamat.

Menurut saya, kejadian ini cukup memprihatinkan. Selama ini kita sering menganggap masalah sampah selesai setelah sampah dibuang dari rumah. Padahal, sampah tersebut sebenarnya hanya berpindah tempat. Setelah dibawa ke tempat pembuangan, sampah akan terus menumpuk dan jumlahnya semakin banyak setiap hari.

Hal yang juga cukup mengkhawatirkan adalah tinggi gunungan sampah di Bantargebang yang mencapai lebih dari 50 meter, atau kurang lebih setara dengan gedung 16 lantai. Tumpukan sebesar itu tentu bukan sesuatu yang bisa terus dibiarkan. Apalagi jika jumlah sampah yang masuk lebih banyak daripada yang bisa diolah.

Masalahnya bukan hanya karena jumlah sampah yang banyak, tetapi juga karena cara kita mengelolanya. Sampah dari rumah sering langsung dicampur dan dibuang tanpa dipilah terlebih dahulu. Padahal, ada sampah yang masih bisa digunakan kembali atau didaur ulang. Berita tersebut juga menyebutkan bahwa masih banyak TPA di Indonesia yang menggunakan sistem open dumping.

Pemerintah tentu perlu mencari cara untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Bantargebang. Beberapa upaya seperti RDF, TPS3R, dan waste to energy sudah mulai dilakukan. Namun, menurut saya, hal tersebut tidak akan cukup jika jumlah sampah dari masyarakat terus bertambah. Pengurangan sampah seharusnya juga dimulai dari rumah, bukan hanya mengandalkan pengolahan ketika sampah sudah sampai di TPA.

BACA JUGA
Persoalan ini juga berkaitan dengan hak warga atas lingkungan sehat serta peran mahasiswa biologi dalam mendorong solusi ilmiah, edukasi, dan advokasi.

Dari kejadian ini, kita bisa melihat bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tentang membuang sampah pada tempatnya. Mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan memilah sampah juga penting dilakukan. Contohnya Sebagai masyarakat, kita bisa mengurangi sampah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, misalnya membawa tas belanja dan tumbler sendiri. Selain itu, kita bisa memilah sampah sesuai jenisnya agar sampah yang masih bisa didaur ulang dapat dimanfaatkan kembali. Sampah organik seperti sisa makanan dan daun juga bisa diolah menjadi kompos, sehingga jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan dapat berkurang. Mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan bisa berkurang.

Kejadian di Bantargebang seharusnya menjadi peringatan agar masalah sampah tidak hanya diperhatikan setelah terjadi bencana. Sampah yang sudah dibuang memang tidak terlihat lagi, tetapi bukan berarti masalahnya ikut hilang. Kalau terus dibiarkan, tumpukan sampah bisa menjadi masalah yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat.