Krisis sampah plastik di Indonesia sudah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah plastik nasional berkisar antara 12 hingga 17 juta ton per tahun, dengan sebagian besar tidak terkelola dengan baik dan berujung dibuang ke sungai atau dibakar secara terbuka.

Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Vinda Damayanti Ansjar, bahkan menyebut hampir 13 juta ton sampah plastik hanya ditimbun tanpa dimanfaatkan dengan baik. Akar masalah ini sebenarnya bukan sekadar perilaku masyarakat yang kurang disiplin memilah sampah, melainkan sifat kimiawi plastik sintetis berbasis minyak bumi yang memang dirancang tahan lama sehingga membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami.

Kabar baiknya, dunia sains telah menemukan solusi yang jauh lebih menjanjikan dibandingkan sekadar menimbun sampah di tempat pembuangan akhir. Pada tahun 2016, tim peneliti Jepang yang dipimpin Kohei Oda dari Kyoto Institute of Technology menemukan bakteri baru dari lumpur tempat daur ulang botol yang kemudian diberi nama Ideonella sakaiensis, dan bakteri ini terbukti mampu menguraikan plastik PET dengan mensekresikan enzim PETase yang memecah rantai polimer menjadi molekul yang lebih sederhana.

Selain itu, jamur tanah Aspergillus tubingensis yang ditemukan oleh tim peneliti Chinese Academy of Sciences di lokasi pembuangan sampah Islamabad juga terbukti mampu menguraikan plastik poliuretan hanya dalam hitungan minggu, jauh lebih cepat dibandingkan proses penguraian alami yang biasanya membutuhkan puluhan tahun. Temuan ini menjadi bukti nyata bahwa mikroba memiliki potensi besar sebagai solusi bioremediasi yang lebih relevan diterapkan dalam skala industri. Selain solusi untuk mengurai sampah yang sudah ada, biologi juga menawarkan jalan pencegahan melalui pengembangan biomaterial pengganti plastik konvensional.

Sejumlah penelitian di berbagai kampus Indonesia menunjukkan bahwa pati singkong yang dicampur dengan gliserol sebagai plasticizer dapat diolah menjadi bioplastik yang mampu terdegradasi sempurna dalam waktu sekitar 15 hari, meskipun masih memerlukan perbaikan pada kekuatan mekanik dan ketahanan terhadap air.

BACA JUGA
Temuan bioplastik berbasis singkong dan rumput laut ini berkelindan dengan pembahasan tentang peran aktif mahasiswa biologi dalam menghadapi krisis sampah sebagai persoalan lingkungan dan kewarganegaraan.

Rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii juga terbukti dapat diekstraksi karagenannya untuk menghasilkan film bioplastik dengan kekuatan tarik dan elongasi yang cukup baik. Bahan baku ini melimpah di Indonesia sebagai negara agraris sekaligus maritim, sehingga semestinya menjadi keunggulan komparatif nasional, bukan hanya sebatas proyek penelitian mahasiswa. Di sinilah letak kritik utama. Selama ini narasi pengelolaan sampah plastik di Indonesia masih berkutat pada kampanye permukaan seperti larangan sedotan plastik atau kebijakan kantong belanja berbayar, padahal skala masalahnya sudah menembus belasan juta ton per tahun.

Kampanye tersebut memang penting sebagai langkah edukasi awal, tetapi tidak sebanding dengan besarnya persoalan apabila tidak diikuti dengan investasi serius pada riset bioteknologi. Pemerintah dan industri semestinya mulai mengarusutamakan solusi berbasis mikroba dan biomaterial sebagai agenda utama, bukan sekadar wacana pelengkap dalamperingatan hari lingkungan.

Sebagai saran konkret, pemerintah melalui kementerian terkait dapat mengalokasikan dana riset khusus untuk pengembangan strain mikroba lokal pengurai plastik serta produksi bioplastik berbasis pati singkong, rumput laut, atau limbah pertanian lain dalam skala yang lebih besar. Industri makanan dan minuman selaku produsen kemasan plastik terbesar juga perlu didorong melalui insentif fiskal atau kewajiban tanggung jawab produsen agar bersedia bermitra dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan bioplastik komersial.

Fasilitas bioremediasi berbasis Ideonella sakaiensis atau Aspergillus tubingensis dapat mulai diujicobakan di tempat pembuangan akhir percontohan sebagai langkah awal sebelum diterapkan lebih luas.

BACA JUGA
Selain bioremediasi di TPA, pengurangan sampah dari sumbernya juga membutuhkan komposting, budidaya maggot, penelitian, dan edukasi, seperti dibahas dalam Mahasiswa Biologi sebagai Penggerak Solusi Sampah Organik Berkelanjutan.

Dengan demikian, penanganan krisis sampah plastik tidak lagi hanya bertumpu pada perubahan perilaku masyarakat yang berjalan lambat, melainkan pada solusi ilmiah yang terukur dan dapat direplikasi di seluruh wilayah Indonesia.