Waktu.news, Sulawesi Utara – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulawesi Utara melonjak 108 persen secara tahunan atau year-on-year. Namun, pertumbuhan tersebut tidak diikuti wisatawan nusantara (wisnus) yang justru mencatat penurunan sekitar 0,16 persen.
Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulawesi Utara, dr. Kartika Devi Tanos, mengungkapkan perbedaan tren tersebut berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut untuk bulan Agustus.
“Namun, kondisi sebaliknya terjadi pada sektor wisatawan nusantara (wisnu) yang justru mencatatkan penurunan tipis sekitar 0,16%,” kata Devi, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, peningkatan kunjungan turis asing terutama didorong bertambahnya frekuensi penerbangan langsung dari luar negeri menuju Sulawesi Utara.
Salah satu peningkatan terjadi pada layanan penerbangan langsung dari Korea Selatan.
Penerbangan Internasional Dorong Kunjungan Wisman ke Sulut
Devi menjelaskan, frekuensi penerbangan dari Korea Selatan sebelumnya hanya tiga hingga empat kali dalam sepekan.
Kini, penerbangan tersebut telah tersedia setiap hari.
“Jika sebelumnya rute ini hanya tersedia 3 hingga 4 kali seminggu, kini penerbangan tersebut telah beroperasi setiap hari menuju Sulawesi Utara,” ungkapnya.
Selain penerbangan reguler, kunjungan wisatawan asing juga didukung aktivitas penerbangan sewa atau charter flight.
Devi menyebut penerbangan sewa Garuda Indonesia dengan tujuan Guangzhou serta operasional penerbangan internasional TransNusa turut mendukung pergerakan tersebut.
Peningkatan konektivitas udara internasional dinilai menjadi faktor utama di balik pertumbuhan kunjungan wisman ke Sulawesi Utara.
Tiket Pesawat Mahal dan Efisiensi Anggaran Tekan Wisnus
Berbeda dengan wisatawan asing, kunjungan wisatawan domestik ke Sulawesi Utara mengalami penurunan tipis.
Devi menilai tingginya harga tiket penerbangan dalam negeri menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat masyarakat untuk berwisata.
Menurut keterangannya, harga tiket pesawat domestik untuk perjalanan pulang-pergi (PP) dilaporkan dapat mencapai Rp6 juta.
Besaran biaya tersebut dinilai memberatkan calon wisatawan dan berdampak pada keputusan melakukan perjalanan.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran di sejumlah kementerian turut memengaruhi aktivitas perjalanan kedinasan.
Devi menjelaskan, pengurangan anggaran berdampak pada kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), yang selama ini menjadi salah satu penggerak kunjungan wisatawan domestik ke daerah.
Berkurangnya aktivitas MICE tersebut dinilai turut memberikan tekanan terhadap pergerakan wisatawan nusantara.
Dengan kondisi itu, pariwisata Sulawesi Utara menunjukkan dua perkembangan berbeda: kunjungan wisatawan asing tumbuh pesat, sedangkan wisatawan domestik menghadapi tekanan biaya perjalanan dan berkurangnya aktivitas kedinasan.