Ia juga menjelaskan, pihaknya sengaja tidak mengadakan lampu jalan LED jenis solar cell tenaga surya, karena harganya terlalu mahal dan jarak antara satu lampu dengan lampu lainnya juga sangat berjauhan.
Berbeda dengan pesanan khusus Pemdes Nuangan melalui pihak ketiga ini, harganya cukup terjangkau. Sehingga tidak terlalu menguras dana desa yang banyak.
"Kelebihannya lagi, jumlahnya akan lebih banyak dibanding solar cell. Kemudian lampu ini dipasang tepat di depan rumah masing-masing warga, sehingga mereka memiliki rasa tanggung jawab untuk merawatnya," terang Hamdan.
Meskipun baru 90 unit, lanjut Hamdan, tidak menutup kemungkinan pada 2022 mendatang lampu penerang jalan tersebut, akan terpasang di seluruh depan rumah warga Desa Nuangan.
Terlebih, ada salah satu jalan yang menjadi tempat bertemunya para penjual dan pembeli di malam hari, juga butuh penerangan. Tempat itu adalah pasar tradisional yang dikelola oleh BUMDes.
Apalagi kata Hamdan, dalam situasi pandemi COVID-19 sekarang ini, keberadaan pasar malam bisa menjadi pilihan sederhana dalam rangka memulihkan perekonomian masyarakat.
"Lokasinya berada di lorong. Tapi, mudah-mudahan rencana penambahan lampu jalan ini, akan disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa," urainya.
Hamdan juga berharap warga desa bisa menjaga puluhan unit lampu yang sudah terpasang, agar tidak lekas rusak. Karena, mewujudkan pembangunan desa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran serta masyarakat.
Kepala Dusun pun ia perintahkan untuk selalu memberikan imbauan, mengingatkan warganya, terutama pada anak-anak kecil.
"Ketika mereka bermain, kalau bukan tiangnya yang digoyang, lampunya dilempari batu. Oleh sebab itu, saya berharap lampu jalan yang ada ini, dapat kita jaga bersama," pungkas Hamdan Arbie. (bs/aah)
Ia juga menjelaskan, pihaknya sengaja tidak mengadakan lampu jalan LED jenis solar cell tenaga surya, karena harganya terlalu mahal dan jarak antara satu lampu dengan lampu lainnya juga sangat berjauhan.
Berbeda dengan pesanan khusus Pemdes Nuangan melalui pihak ketiga ini, harganya cukup terjangkau. Sehingga tidak terlalu menguras dana desa yang banyak.
"Kelebihannya lagi, jumlahnya akan lebih banyak dibanding solar cell. Kemudian lampu ini dipasang tepat di depan rumah masing-masing warga, sehingga mereka memiliki rasa tanggung jawab untuk merawatnya," terang Hamdan.
Meskipun baru 90 unit, lanjut Hamdan, tidak menutup kemungkinan pada 2022 mendatang lampu penerang jalan tersebut, akan terpasang di seluruh depan rumah warga Desa Nuangan.
Terlebih, ada salah satu jalan yang menjadi tempat bertemunya para penjual dan pembeli di malam hari, juga butuh penerangan. Tempat itu adalah pasar tradisional yang dikelola oleh BUMDes.
Apalagi kata Hamdan, dalam situasi pandemi COVID-19 sekarang ini, keberadaan pasar malam bisa menjadi pilihan sederhana dalam rangka memulihkan perekonomian masyarakat.
"Lokasinya berada di lorong. Tapi, mudah-mudahan rencana penambahan lampu jalan ini, akan disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa," urainya.
Hamdan juga berharap warga desa bisa menjaga puluhan unit lampu yang sudah terpasang, agar tidak lekas rusak. Karena, mewujudkan pembangunan desa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran serta masyarakat.
Kepala Dusun pun ia perintahkan untuk selalu memberikan imbauan, mengingatkan warganya, terutama pada anak-anak kecil.
"Ketika mereka bermain, kalau bukan tiangnya yang digoyang, lampunya dilempari batu. Oleh sebab itu, saya berharap lampu jalan yang ada ini, dapat kita jaga bersama," pungkas Hamdan Arbie. (bs/aah)
Dukung Jurnalisme Waktu.News
Dukungan pembaca membantu Waktu.News terus menghadirkan kerja jurnalistik untuk masyarakat.
Dukungan dari artikel ini tercatat sebagai apresiasi terhadap karya jurnalistik Abdul Agus Heydemans.
Dukungan tidak memengaruhi independensi, isi, sudut pandang, maupun keputusan editorial Waktu.News.