Selain itu, Hamdan juga mengungkapkan alasan lain yang membuatnya semakin serius membudidayakan kakao adalah karena hasil panennya yang cukup menguntungkan. Tanaman kakao, kata dia, bisa dipanen dua kali dalam setahun, yakni pada puncak panen utama dan panen kecil.
"Jadi cokelat ini sebenarnya yang paling bisa menopang hidup, apa terlebih di wilayah kita ini. Karena dalam setahun, cokelat ini tidak hanya berbuah sekali, tetapi juga memiliki buah antara. Beda dengan cengkih, kalau di Nuangan ini hanya di beberapa wilayah saja yang berbuah dua kali setahun, sedangkan di tempat lain seperti di perkebunan rata uyu itu bisa butuh dua hingga tiga tahun," tambahnya.
Menariknya, Hamdan mengaku tidak terlalu mempersoalkan apakah bibit kakao yang ditanam merupakan hasil entris atau bibit lokal tanpa entris. Baginya, yang paling penting adalah bagaimana perawatannya.
Namun, jika harus memilih, ia justru lebih menyukai kakao lokal tanpa entris. Alasannya, bibit hasil entris membutuhkan perlakuan khusus, terutama dalam hal pemupukan.
"Kalau bicara cokelat, sebetulnya varietas lokal yang memang paling bagus, karena dia cuma pemeliharaannya. Yang dijaga cuma cabang air saja, tapi kalau setek musti diberi makan (pupuk). Bedanya itu," jelasnya.
Kini, Hamdan tanpaknya tengah menikmati kesibukannya sebagai petani. Saat ini tanaman kakao miliknya ada sekitar 350 pohon.
Langkahnya membudidayakan kakao sepertinya bukan hanya menjadi contoh bagi para mantan kepala desa lainnya, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan pertanian kakao sebagai komoditas unggulan.
Lantas, apakah Hamdan benar-benar sudah meninggalkan dunia pemerintahan desa? Atau ini hanya pengisi waktu luang sementara sebelum ia kembali bertarung di Pilkades mendatang? Kita lihat saja nanti! (aah)
Selain itu, Hamdan juga mengungkapkan alasan lain yang membuatnya semakin serius membudidayakan kakao adalah karena hasil panennya yang cukup menguntungkan. Tanaman kakao, kata dia, bisa dipanen dua kali dalam setahun, yakni pada puncak panen utama dan panen kecil.
"Jadi cokelat ini sebenarnya yang paling bisa menopang hidup, apa terlebih di wilayah kita ini. Karena dalam setahun, cokelat ini tidak hanya berbuah sekali, tetapi juga memiliki buah antara. Beda dengan cengkih, kalau di Nuangan ini hanya di beberapa wilayah saja yang berbuah dua kali setahun, sedangkan di tempat lain seperti di perkebunan rata uyu itu bisa butuh dua hingga tiga tahun," tambahnya.
Menariknya, Hamdan mengaku tidak terlalu mempersoalkan apakah bibit kakao yang ditanam merupakan hasil entris atau bibit lokal tanpa entris. Baginya, yang paling penting adalah bagaimana perawatannya.
Namun, jika harus memilih, ia justru lebih menyukai kakao lokal tanpa entris. Alasannya, bibit hasil entris membutuhkan perlakuan khusus, terutama dalam hal pemupukan.
"Kalau bicara cokelat, sebetulnya varietas lokal yang memang paling bagus, karena dia cuma pemeliharaannya. Yang dijaga cuma cabang air saja, tapi kalau setek musti diberi makan (pupuk). Bedanya itu," jelasnya.
Kini, Hamdan tanpaknya tengah menikmati kesibukannya sebagai petani. Saat ini tanaman kakao miliknya ada sekitar 350 pohon.
Langkahnya membudidayakan kakao sepertinya bukan hanya menjadi contoh bagi para mantan kepala desa lainnya, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan pertanian kakao sebagai komoditas unggulan.
Lantas, apakah Hamdan benar-benar sudah meninggalkan dunia pemerintahan desa? Atau ini hanya pengisi waktu luang sementara sebelum ia kembali bertarung di Pilkades mendatang? Kita lihat saja nanti! (aah)
Dukung Jurnalisme Waktu.News
Dukungan pembaca membantu Waktu.News terus menghadirkan kerja jurnalistik untuk masyarakat.
Dukungan dari artikel ini tercatat sebagai apresiasi terhadap karya jurnalistik Abdul Agus Heydemans.
Dukungan tidak memengaruhi independensi, isi, sudut pandang, maupun keputusan editorial Waktu.News.