Opini

Bolmut Sebagai Sarang Nepotisme dan Penganut Ideologi Politik Dinasti

Oleh: Alin Pangalima

Sebagai daerah yang baru 14 tahun dimekarkan Bolaang Mongondow Utara sudah termasuk senior dalam hal “nepotisme” banyak sekali fakta-fakta yang mendukung persoalan yang satu ini. Sedangkan untuk ideologi politik dinasti sendiri adalah hal yang “kayaknya” menjadi pendatang baru, tapi sepertinya dia akan menetap lama bahkan bisa jadi penduduk asli atau bahkan bisa menguasai seluruh lini kehidupan masyarakat. Bersyukurlah jika Tuan dan Puan dari kalangan orang-orang yang berpangkat dan kuat dalam hal lobi dan jaringan, namun bagaimana jika sebaliknya?

Pembahasan seputar nepotisme memang menjadi sangat familiar di masyarakat, bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari, tapi ditelan sakit tidak ditelan lapar. Saya pernah berdiskusi dengan salah satu senior yang tak perlu disebutkan namanya, dia bilang begini, “Di Bolmut ini, biar orang pande, berbakat, lulusan terbaik di kampus, kalo tida ada orang dalam deng tida basudara dengan pejabat-pejabat, parcuma. Deng biar orang bodok, nintau apa-apa, deng biar tida skolah kalo dekat dengan kalangan atas tetap mo tapake.” Perkataanya begitu menohok, saya terdiam mendengar hal itu, benar apa yang dikatakannya. Segala usaha akan sia-sia  jika tidak punya kekuatan orang dalam.

Ini tentunya menjadi pembelajaran tersendiri bagi saya pribadi, apalagi saya dari keluarga yang jauh di bawah pas-pasan, untuk berangan punya orang dalam, itu hal yang hampir mustahil. Kadang berpikir, barangkali setelah saya menyelesaikan pendidikan hanya akan menerapkan ilmu di kebun yang jauh dari ingar-bingar pergulatan politik dan akan menghabiskan umur di tempat sepi itu. Ini mengerikan. Daerah menjadi sangat kejam karena adanya nepotisme sialan ini.

Entahlah sudah berapa hati yang dibuat patah oleh kehadiran sesuatu yang tidak menguntungkan bagi orang yang tidak punya kenalan dengan orang-orang yang punya jabatan dan kedudukan. Hal ini tentunya menjadi ironi tersendiri di daerah yang sedang mengalami masa pubertas. Saya sangat prihatin, entahlah untuk apa dan pada siapa rasa prihatin itu, barangkali bagi saya pribadi yang tidak punya “kekuatan orang dalam”.

Tak sampai di situ, banyak hal yang menjadikan Bolmut sebagai penganut nepotisme akut. Contoh, banyak terjadi penempatan orang-orang pada pekerjaan yang tidak sesuai tupoksinya, misalnya yang menempati kedudukan kepala dinas pendidikan adalah yang lulusan ekonomi. Sepertinya selain nepotisme, Bolmut juga pemuja kolusi. Banyak fakta-fakta yang terjadi pada lapisan lembaga pemerintahan, akibatnya hal ini tentu sangat merugikan orang lain. Jadi para pimpinan melupakan sila kelima dalam Pancasila; “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Berpihak sekali mereka itu.

Artikel Terkait: Goyo Sebagai Produk Gagal Pemda Bolmut

Mungkin ini penyebab Bolmut menjadi stagnan atau hanya bergerak di tempat kayak anak SD yang, sedang berlatih menyejajarkan kaki kiri dan kanan untuk mengikuti gerak jalan. Keberpihakan menjadikan pemimpin menzolimi masyarakatnya sendiri. Sedih sekali melihat hal seperti ini. Sampai detik ini pun, Bolmut belum ada prestasi yang bisa dibanggakan kecuali WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), itu adalah status yang diberikan oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) untuk lembaga atau kabupaten yang diaudit laporan keuangannya. Tapi sepertinya itu keliru juga, karena walaupun sebersih apa laporan keuangannya kalau masyarakat meningkat taraf kemiskinannya, itu adalah hal yang percuma. Banyak juga pekerjaan-pekerjaan pemerintah yang tidak selesai, sekali lagi Goyo contohnya, Huntuk juga. Dasar, bedebah.

Tapi saya pikir, kalau persoalan pelaporan itu juga bisa dimanipulasi. Di kampus saya juga sering melakukannya bersama teman-teman saat membuat proposal pendanaan untuk pengkaderan. Tapi itu tidak masalah, karena uang yang didapat untuk kepentingan orang banyak, bukan hanya bagi segelintir orang. Di sini sepertinya mahasiswa masih lebih mengerti arti kepemimpinan dalam mengelola lembaganya. Hihihi, jangan marah, ini benar adanya.

Itu saja dulu, saya sudah lapar; lapar keadilan. Sehat-sehatlah daerah yang penuh dengan kolusi, nepotisme, dan politik dinasti ini. Hahaha, lombo dan ngakak; Bolaang Mongondow Utara.

Redaksi Waktu

Berita yang masuk di Email, Whatapps dan Telegram Redaksi akan di Edit terlebih dahulu oleh Tim Editor Media Waktu.news kemudian di publish.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button