Pernyataan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I Manado yang menyebut pekerjaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Desa Nuangan, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), telah sesuai target volume, menyisakan pertanyaan mengenai kualitas fisik bangunan saluran irigasi tersebut.
Pasalnya, berdasarkan pantauan langsung waktu.news pada Minggu (25/10/2026), ditemukan retakan pada sejumlah bagian lantai dan dinding saluran. Bahkan, beberapa bagian beton terlihat mudah terkelupas ketika disentuh dan hancur saat diremas.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena pekerjaan yang memenuhi target volume belum serta-merta menunjukkan bahwa kualitas konstruksinya juga telah memenuhi spesifikasi teknis.
Dalam penjelasan tertulis yang disampaikan Humas BWS Sulawesi I Manado, Selasa (27/10/2026), instansi tersebut menyatakan pekerjaan P3-TGAI di Desa Nuangan telah berjalan sesuai desain teknis.
BWS juga menyebut hasil pemeriksaan akhir menunjukkan pekerjaan yang dikelola kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) telah memenuhi target volume.
“Hasil pemeriksaan akhir pekerjaan telah dikerjakan dan dikelola oleh P3A sesuai dengan target volume dan dipasang prasasti,” tulis Humas BWS Sulawesi I Manado.
Namun, penjelasan tersebut belum merinci apakah pemeriksaan akhir juga mencakup pengujian mutu beton dan kualitas konstruksi, atau hanya memastikan pemenuhan volume pekerjaan.
Padahal, kondisi fisik bangunan menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan saluran irigasi dapat berfungsi dan bertahan sesuai peruntukannya.
Dalam keterangannya, BWS menjelaskan bahwa pelaksanaan P3-TGAI menggunakan mekanisme swakelola oleh kelompok P3A, dengan pendampingan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) serta pengawasan pemerintah desa.
BWS juga menyatakan tim balai melakukan kunjungan lapangan selama pelaksanaan pekerjaan untuk memantau kondisi fisik serta memberikan rekomendasi, saran, perbaikan, dan metode pelaksanaan kepada P3A dan sangadi.
Meski demikian, belum dijelaskan secara spesifik apakah dalam kunjungan tersebut tim balai menemukan persoalan terkait mutu beton atau memberikan catatan perbaikan terhadap bagian pekerjaan yang kini terlihat retak dan mudah hancur.
BWS turut menyinggung kondisi kemarau panjang selama pelaksanaan pekerjaan yang disebut memberikan kontribusi terhadap aspek teknis.
“Yang perlu diinformasikan bahwa selama pekerjaan memang kondisi cuaca dengan kemarau yang panjang memberikan kontribusi terhadap aspek teknis pekerjaan,” demikian keterangan Humas BWS.
Akan tetapi, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai aspek teknis apa yang terdampak oleh kondisi cuaca tersebut dan apakah hal itu berkaitan dengan kondisi beton yang ditemukan di lapangan.
Karena itu, dasar penilaian BWS dalam pemeriksaan akhir perlu diperjelas, terutama terkait standar mutu material, metode pemeriksaan kualitas beton, serta tindak lanjut apabila ditemukan bagian konstruksi yang tidak memenuhi persyaratan teknis.
Untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai dasar pemeriksaan kualitas pekerjaan, waktu.news kembali menghubungi Humas BWS Sulawesi I Manado melalui pesan WhatsApp, Minggu (1/11/2026). Namun, hingga berita ini diterbitkan pada Senin (2/11/2026) pukul 23.50 Wita, belum ada penjelasan substantif yang diberikan. Humas BWS hanya menyampaikan, "Kami teruskan dulu ke pihak terkait," tulisnya. (aah)