BOLTIM – Ketua DPRD Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Samsudin Dama meminta pemerintah pusat menyiapkan langkah konkret menghadapi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan pangan.

Sorotan itu disampaikan dalam sebuah forum resmi bersama perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan di tengah kondisi panas dan kemarau yang disebut melanda sejumlah wilayah di Pulau Sulawesi.

Dalam forum tersebut, Samsudin menyampaikan pertanyaan langsung kepada perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dr. Ir. Nani Hendiarti, M.Sc.

Ia menilai kemarau berkepanjangan mulai memberi tekanan terhadap kehidupan masyarakat, terutama sektor pertanian di Bolaang Mongondow Timur.

“Kondisi panas dan kemarau berkepanjangan, bahkan kebakaran hutan akibat El Niño saat ini sedang memukul telak Pulau Sulawesi, khususnya di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara,” tegas Samsudin Dama.

Minta Antisipasi untuk Pertanian dan Pangan

Samsudin menilai kondisi dapat semakin berat apabila musim kering masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

BACA JUGA
Di luar isu kekeringan, kiprah Samsudin Dama sebagai Ketua DPRD Boltim juga dibahas dalam artikel tentang Pembentukan ABPEDNAS Boltim dan pembenahan peran BPD.

Ia juga menyinggung prakiraan BMKG yang, menurut materi sumber, berkaitan dengan potensi berlanjutnya dampak fenomena El Niño hingga Desember.

Atas kondisi tersebut, Samsudin mempertanyakan kesiapan pemerintah menghadapi ancaman kekeringan.

Perhatian utamanya tertuju pada keberlangsungan produksi pertanian serta ketersediaan pangan bagi masyarakat Boltim.

Ia meminta penjelasan mengenai langkah taktis dan konkret yang telah disiapkan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

BACA JUGA
Selain perhatian pada pertanian, data perikanan juga tercatat dalam artikel tentang produksi tangkap ikan Bolaang Mongondow Timur 2025 yang memuat capaian hasil tangkap.

“Langkah konkret apa yang disiapkan Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk menyelamatkan sektor pertanian dan menjamin ketersediaan pangan di Bolaang Mongondow Timur, mengingat masa kekeringan masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan?” tanya Samsudin.

Materi sumber menyebut kekeringan berkepanjangan dikhawatirkan mengganggu produksi pangan dan ketersediaan air untuk pertanian, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Forum tersebut diharapkan menghasilkan langkah konkret dan terukur dari pemerintah pusat bagi daerah yang terdampak kondisi cuaca ekstrem, termasuk Bolaang Mongondow Timur.