BOLTARA – Warga di kawasan transmigrasi Desa Goyo masih menghadapi sejumlah keterbatasan dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan yang disebut dalam reportase meliputi infrastruktur jalan, pendidikan, informasi, penerangan hingga sanitasi.

Kendati menghadapi berbagai kekurangan, masyarakat tetap berupaya memperbaiki taraf hidup dengan memanfaatkan potensi pertanian di wilayah tersebut.

Pemerintah telah memberikan perhatian melalui pembangunan sekolah dan fasilitas listrik tenaga surya. Namun, akses menuju kawasan Goyo yang berada di sebelah timur Kecamatan Bolangitang Barat masih menjadi tantangan.

Dalam reportase yang dilakukan reporter Tabloid Bolmut Post pada akhir Mei, perjalanan menuju kawasan transmigrasi membutuhkan biaya tambahan.

Materi sumber menyebut warga perlu menyiapkan sedikitnya Rp70 ribu, terdiri dari sekitar Rp50 ribu untuk ojek dan Rp20 ribu untuk jasa rakit.

BACA JUGA
Di tengah biaya perjalanan menuju kawasan itu, pemerintah daerah juga menetapkan 60 penerima bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa Boltara pada 2025.

Menyeberangi Sungai Paku dengan Rakit

Untuk mencapai Goyo, perjalanan harus melewati Sungai Paku yang disebut memiliki lebar sekitar 100 meter.

Di kawasan sungai terdapat aktivitas pengumpulan pasir, galian C dan memancing. Air sungai juga digunakan untuk mencuci kendaraan.

Penumpang menyeberang menggunakan rakit yang dioperasikan warga setempat.

Biaya menyeberang disebut sekitar Rp5.000 untuk penumpang dan Rp10 ribu jika membawa sepeda motor.

BACA JUGA
Keterbatasan penerangan di kawasan ini terhubung dengan agenda pemerintah daerah yang membahas penguatan listrik hingga desa terpencil melalui audiensi PLN Kotamobagu.

Pengendara tetap berada di atas sepeda motor ketika kendaraan dinaikkan ke rakit. Perjalanan menyeberangi sungai membutuhkan waktu sekitar lima menit.

Uyo, salah seorang petugas rakit, mengatakan pendapatan dari jasa penyeberangan dapat mencapai ratusan ribu rupiah dalam sehari.

Setelah melewati sungai, tantangan perjalanan belum berakhir.

Pada sekitar kilometer kedua, kondisi jalan masih relatif mudah dilalui dan terdapat hamparan sawah serta kolam ikan.

Namun, kondisi mulai berubah di beberapa bagian jalur berikutnya.

Materi reportase menyebut pada sekitar kilometer 10 terdapat bagian tebing dan jalan yang mengalami kerusakan.

Penulis menduga kerusakan berkaitan dengan aliran air yang tidak memiliki saluran memadai. Namun, dugaan tersebut tidak disertai keterangan teknis dari instansi terkait.

Jalan Rusak Jadi Tantangan Perjalanan

Perjalanan menuju Goyo dalam reportase ditempuh menggunakan sepeda motor Honda Supra X 125.

Sejumlah ruas jalan disebut berkelok, rusak dan berada pada medan yang cukup curam.

Batu-batu yang tersebar di badan jalan juga membuat pengendara harus meningkatkan kewaspadaan.

Di sepanjang perjalanan terdapat perkebunan kelapa dan cengkeh.

Materi juga menggambarkan Gunung Goyo dan Paku sebagai bagian dari bentang alam yang mengapit kawasan transmigrasi tersebut.

Setelah sekitar satu jam perjalanan dengan sepeda motor, reporter akhirnya tiba di lokasi transmigrasi tahap pertama.

BACA JUGA
Setibanya di kawasan transmigrasi tahap pertama, persoalan pendidikan yang disebut warga dapat dilihat dalam konteks lebih luas melalui data Madrasah Aliyah Bolaang Mongondow Utara 2026.

Masyarakat di kawasan tersebut mengandalkan hasil bumi seperti padi ladang, jagung dan kacang tanah untuk memenuhi kebutuhan.

Sebagian Warga Masih Mengandalkan Lampu Botol

Ratih Patiro, salah seorang warga, mengatakan dirinya telah tinggal di Goyo sejak kecil bersama orang tuanya.

“Orangtua saya sudah 7 tahun menetap di sini,” ujar Ratih sebagaimana tercantum dalam materi sumber.

Ia mengungkapkan masih terdapat warga yang belum memiliki fasilitas lampu tenaga surya.

“Kalau malam harus pake lampu botol. Sekarang ini sudah tidak lagi, harus gelap gulita. Harga minyak tanah sudah tak mampu kami beli,” katanya.

Keterbatasan listrik juga memengaruhi penggunaan telepon seluler.

Warga disebut harus mendatangi rumah tetangga untuk mengisi daya telepon genggam.

Saat musim hujan, penggunaan listrik dari tenaga surya juga terbatas karena modul tidak menyimpan daya dalam jumlah mencukupi.

Di tengah persoalan tersebut, warga menyambut pembangunan sekolah oleh Pemerintah Bolaang Mongondow Utara.

“Alhamdulilah, sekolah sudah ada dan anak-anak sudah dapat melanjutkan pendidikan,” kata Ela.

Materi reportase menutup catatan perjalanan dengan harapan warga terhadap perbaikan jalan, pelayanan kesehatan dan pelayanan pendidikan agar kehidupan di kawasan Goyo semakin baik.