Liputan Khusus

Mengintip Kesulitan Warga Transmigrasi Desa Goyo

Waktu.news | Warga transmigrasi Desa GOYO masih jauh dari merdeka. Disana sini, masih banyak kekurangan, mulai dari infrastruktur jalan, pendidikan, informasi, penerangan dan sanitasi.  Kendati serba kekurangan tidak menyurutkan fighting spirit warga Goyo untuk memperbaiki taraf hidup mereka atau keluar dari zona tersebut.

WALAU pun Pemerintah telah memberikan perhatian berupa pembangunan sekolah, fasilitas listrik tenaga surya akan tetapi Desa Goyo yang terletak di sebelah timur kecamatan Bolangitang Barat itu masih sangat terkebelakang. Faktanya, untuk ke Goyo, masyarakat harus menyisihkan modal minimal Rp 70 ribu disamping itu untuk Sewa ojek Rp 50 ribu dan sewa tukang rakit Rp 20 ribu.

Lokasi Menuju Transmigrasi Desa Goyo Luar Biasa

Belum lagi masyarakat transmigrasi Goyo sendiri yang akan ‘turun’ gunung di desa tetangga ke Paku dan Ollot.  Biasanya mereka akan turun gunung untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, misalnya belanja di pasar Bolangitang. Reportase yang dilakoni reporter tabloid Bolmut Post akhir Mei lalu.

Sedangkan untuk ke Goyo, harus melewati sungai Paku. Sungainya cukup lebar sekira 100 meter. Disana ada aktivitas pengumpulan pasir, galian C dan memancing ikan. Bahkan air sungai digunakan buat cuci mobil. Untuk menyeberang pun menggunakan rakit. Di pesisir sungai petugas rakit sudah siap. Satu kali diantar harus bayar Rp 5000, atau kalau  dengan kendaraan motor sekira  Rp 10  ribu.

Pengendara tetap di atas motor lalu kendaraannya di naiknya ke rakit. Petugas rakit lalu mengarahkan ke seberang. Butuh waktu sekira 5 menit untuk keseberang. Beruntung saat itu tidak musim hujan.  Menurut Uyo, petugas rakit, dalam sehari dapat meraup ratusan ribu. Itupun dihasilkan dengan jual jasa mengantar menyeberangkan penumpang.

Lebih lanjut ujian melawati sungai berhasil dalam Mengintip Kesulitan Warga Transmigrasi Desa Goyo. Bukan berarti sudah tak da ujian. Masih banyak yang menggelengkan kepala adalah jalan yang menuju lokasi. Di km 2 jalan yang dilalui relative bersahabat dan Pemandangan di jalur ini lumayan menggoda serta sedikit terobati lelahnya.

Supra X 125 Jadi Saksi Perjalanan Melelahkan

Di kanan kiri, ruas jalan  hamparan sawah yang menghijau menyegarkan mata. Adapula lokasi kolam ikan milik anggota Dewan Joni Patiro. Air yang mengalir cukup lancar, itu sebabnya cocok sekali dikembangkan perikan air tawar. tak perlu berlama-lama takut kehujanan.

Supra X 125 yang dikendarai cukup lincah menerjang jalan yang mulai berkelok-kelok. Di KM 10 tebing jalan agak terbongkar.  Dugaannya karena air bah yang deras menyebabkan saluran    made in water terbentuk. Mestinya, di jalur ini selain jalan diperbaiki, saluran air juga tak dilupakan. Ini sama dengan jalan Desa Pangkusa ke Sidodadi.

Jalan terbongkar karena air tak menemukan salurannya.  Akibatnya air terjun ke jalan lalu mengoyak dan merusak kondisi jalan. Ini menjadi masukan buat Pemerintah deh. Potensi lingkungan Goyo luar biasa.

Bukan hanya perkebunan kelapa yang disajikan desa yang subur ini.  Perkebunan   cengkeh pun marak dikelolah. Hampir sama dengan Nuangan, yang cuacanya sejuk. Bedanya, jalan di Nuangan-Bolmong Timur, sudah   beraspal hotmix. Di Goyo baru baru sungai ditebar.

Itu pun berseliweran, tak teratur. Kalau tak waspada, pengendara motorbisa jungkir balik dijalur ini. Tak ingin dihantui rasa takut karena kondisi jalan yang rusak dan medan yang curam. Gunung Goyo dan Paku lalu menjadi penghibur lara. Rupanya Goyo layak dikembangkan pariwisata alam. Dua gunung yang mengapit lokasi transmigrasi ini bak paku alam yang membuat Goyo kokoh. Sejam lamanya terombang-ambing di atas kuda besi.

Kata Warga Warga Transmigrasi Desa Goyo

Akhirnya tibalah kami di lokasi Transmigrasi tahap 1. Kehidupan masyarakat sungguh bersahaja. Mengandalkan hasil bumi berupa padi ladang, jagung, kacang tanah, masyarakat berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Menurut Ratih Patiro, mereka sangat senang tinggal di Goyo.

Sejak kecil, ia sudah tinggal bersama orangtuanya di Goyo. Awal Goyo dibuka sebagai lahan transmigrasi, mereka mengambil resiko tinggal di kawasan tersebut. “orangtua saya sudah 7 tahun menetap di sini,”ucap Rati. Dibalik kesehajaan penduduk, bibir mungil Rati, mengungkapkan kalau masih ada warga yang belum memiliki lampu tenaga surya.

“Kalau malam harus pake lampu botol. Sekarang ini sudah tidak lagi, harus gelap gulita. Harga Minyak tanah sudah tak mampu kami beli,”terangnya. Karena tak ada listrik, mereka juga kesulitan menge-charge telepon selular. Biasanya mereka ke rumah tetangga.

Kalau musim hujan, penggunaan listrik dibatasi. Modul atau alat tenaga surya tidak menyimpan listrik yang cukup. Kendati dirundung masalah listrik, mereka bangga terhadap pemerintah Bolmong Utara.   Pemerintah telah serius mendirikan sekolah.

“Alhamdulilah, sekolah sudah ada dan anak-anak sudah dapat melanjutkan pendidikan,”kata  Ela. Sejuta harap terpancar di mata bening Rati, seperti halnya mata cita-cita ratusan jiwa di Goyo. Mereka ingin seperti daerah lain, jalan yang baik, pelayanan kesehatan dan pelayanan pendidikan. itulah catatan sedikit dari perjalanan Mengintip Kesulitan Warga Transmigrasi Desa Goyo (rhp)

Redaksi Waktu

Berita yang masuk di Email, Whatapps dan Telegram Redaksi akan di Edit terlebih dahulu oleh Tim Editor Media Waktu.news kemudian di publish.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button