MANADO – Pelabuhan Manado mencatat pertumbuhan tertinggi untuk trafik barang nonpetikemas di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Arus barang nonpetikemas di Pelabuhan Manado melonjak 171,2 persen, dari 53.660 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 145.532 ton. Pertumbuhan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan pengiriman barang menuju Halmahera.

Secara regional, Pelindo Regional 4 juga mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator operasional.

Arus penumpang naik 12,9 persen secara tahunan dari 5,33 juta menjadi 6,02 juta orang. Trafik kapal berdasarkan gross tonnage tumbuh 5,3 persen dari 279,99 juta GT menjadi 294,82 juta GT.

Jumlah kunjungan kapal meningkat 2,4 persen dari 78.172 unit menjadi 80.023 unit. Sementara arus peti kemas naik 3,9 persen dari 1,64 juta menjadi 1,70 juta TEUs.

BACA JUGA
Rincian jadwal keberangkatan kapal Pelabuhan Manado pada Senin 17 Agustus 2026 melengkapi data peningkatan kunjungan kapal dan arus peti kemas tersebut.

Dalam satuan boks, arus peti kemas meningkat 3,7 persen dari 1,38 juta menjadi 1,43 juta boks.

Executive Director 4 Pelindo Regional 4 Abdul Azis mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan aktivitas pelabuhan di kawasan timur Indonesia yang tetap terjaga.

“Pertumbuhan trafik kapal, peti kemas, dan penumpang hingga Agustus 2026 mencerminkan peran pelabuhan yang terus menguat dalam mendukung konektivitas serta mobilitas masyarakat dan barang di wilayah kerja Regional 4,” kata Abdul Azis.

Manado Tertinggi untuk Barang Nonpetikemas

Selain Pelabuhan Manado, sejumlah pelabuhan lain juga mencatat pertumbuhan signifikan pada trafik barang nonpetikemas.

BACA JUGA
Pada sisi layanan penumpang, empat kapal dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Manado pada Minggu, 16 Agustus 2026, menuju Sitaro, Talaud, Sangihe, Jailolo, dan Ternate.

Pelabuhan Jayapura tumbuh 101,3 persen dari 65.879 ton menjadi 132.618 ton. Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas bongkar muat general cargo.

Pelabuhan Samarinda tumbuh 93,4 persen dari 133.779 ton menjadi 258.755 ton, didorong kegiatan general cargo dan curah kering batu bara di lokasi TCM.

Pelabuhan Parepare mencatat pertumbuhan 28 persen dari sekitar 599.698 ton menjadi 767.331 ton.

Sementara itu, Pelabuhan Makassar tumbuh 4,6 persen dari 2,65 juta ton menjadi 2,77 juta ton.

Trafik Kapal dan Peti Kemas Juga Bertumbuh

Pada kategori trafik kapal berdasarkan gross tonnage, Pelabuhan Ternate mencatat pertumbuhan 302,3 persen, dari 3,68 juta GT menjadi 14,79 juta GT.

Sumber menyebut kenaikan terutama dipengaruhi penambahan pencatatan arus kegiatan Lawui oleh PT Jasa Armada Indonesia Tbk yang sebelumnya belum tercatat di Regional 4.

Pelabuhan Pantoloan tumbuh 20 persen menjadi 4,72 juta GT. Pelabuhan Samarinda meningkat 14,1 persen menjadi 37,21 juta GT.

Pelabuhan Merauke tumbuh 12,4 persen menjadi 1,21 juta GT, sedangkan Pelabuhan Bontang naik 10,4 persen menjadi 24,08 juta GT.

Untuk peti kemas, TPK New Makassar 2 atau Makassar New Port mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 24,2 persen, dari 255.378 menjadi 317.219 TEUs.

Pelabuhan Parepare naik 16,3 persen menjadi 8.190 TEUs, Kendari tumbuh 15,7 persen menjadi 109.504 TEUs, Jayapura naik 11,2 persen menjadi 62.273 TEUs, dan Merauke bertambah 10,6 persen menjadi 37.237 TEUs.

Penumpang Regional Tembus 6,02 Juta Orang

Pertumbuhan juga terjadi pada arus penumpang. Lima cabang dengan pertumbuhan tertinggi ialah Kendari, Ambon, Parepare, Balikpapan, dan Makassar.

Kendari tumbuh 34,5 persen dari 367.326 menjadi 494.119 penumpang. Ambon meningkat 18,9 persen menjadi 800.837 orang.

Parepare bertambah 17,8 persen menjadi 674.060 orang, sedangkan Balikpapan tumbuh 12,6 persen menjadi 652.898 orang.

Pelabuhan Makassar mencatat pertumbuhan 9,8 persen dari 673.512 menjadi 739.788 penumpang.

Division Head Operasi Pelindo Regional 4 Yusida M. Palesang mengatakan pertumbuhan di setiap pelabuhan ditopang faktor yang berbeda.

“Penguatan trafik terjadi dengan pendorong yang berbeda di setiap pelabuhan. Ada cabang yang tumbuh karena tambahan layanan peti kemas, peningkatan kegiatan batu bara dan general cargo, serta pembukaan rute penumpang baru,” kata Yusida.

Pelindo Regional 4, lanjutnya, masih mencermati sejumlah indikator yang belum mencapai sasaran, khususnya trafik barang nonpetikemas dan aktivitas peti kemas di beberapa cabang.

“Kami terus berkoordinasi dengan pengguna jasa, perusahaan pelayaran, dan pemangku kepentingan daerah untuk mengoptimalkan potensi muatan serta menjaga kelancaran pelayanan kapal dan barang hingga akhir tahun,” tutup Yusida.