Ramadan Tinggal Menghitung Hari... Persiapkan diri untuk menyambutnya...!

bLOG Waktu
Advertisement
Boltim
Trending

Penjual Sayur di Boltim Ini, Sekolahkan Anak Dari SD Hingga Kuliah Tanpa Beasiswa

Tutuyan, WAKTU.news – Sesulit apapun kondisi ekonomi rumah tangga, pasangan suami istri ini tetap berusaha kuat demi menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Keduanya adalah Lasridin Karinda (42) dan Mardiyami Madijan (38), warga Dusun II (dua) Desa Purworejo Timur, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Advertisement

Lasridin sehari-hari berprofesi sebagai penjual sayur keliling, dengan keuntungan per hari antara 75 sampai 100 ribu rupiah. Sedangkan Mardiyami, hanyalah seorang ibu rumah tangga.

Demi menambah sedikit penghasil rumah tangga, Mardiyami, juga jualan aneka jajanan anak-anak SD di sekolah.

Advertisement

Kepada waktu.news, mereka menceritakan begitu sulit dan beratnya menyekolahkan anak. Sejak SD hingga SMA, bahkan saat ini tengah duduk dibangu kuliah, anak mereka tidak pernah merasakan yang namanya beasiswa. Seperti misalnya, bantuan dari pemerintah untuk keluarga miskin melalui program Kartu Indonesia Pintar.

Bukan hanya sekali atau dua kali. Di zaman periode Bupati Sehan Salim Landjar, mereka bahkan telah mengurus permohonan bantuan dari pemerintah pusat melalui Dinas Sosial, sebanyak empat kali. Hasilnya, mereka tak seberuntung orang-orang yang dianggapnya dekat dengan kekuasaan.

“Waktu Bupati masih Eyang, itu empak kali, urus di sangadi (kepala desa), antar di dinas sosial. Tapi tidak pernah keluar, mungkin belum rezeki,” kata Lasridin.

Kini, pasangan suami istri yang memiliki dua orang anak itu, harus terus berjuang menyekolahkan anak kendati berada pada situasi sulit di masa pademi COVID-19.

Advertisement

Meski demikian, Rasidin dan Mardiyami merasa kecewa, karena baru-baru ini mereka mendengar, ada teman anaknya yang telah putus sekolah sewaktu di SMA, tetapi masih terdaftar sebagai penerima beasiswa.

Bukan hanya itu saja, anak pengelola keuangan desa di Purworejo Timur yang juga sekampus dengan anaknya, justru mendapatkan bantuan KIP dari desa. Sementara, anaknya yang tergolong miskin tak mendapatkan program dari pemerintah pusat itu.

“Mana yang dekat Sangadi itu yang dapat. Kalau kami yang jauh tidak akan dapat,” keluh, pasangan suami istri itu.

Kepada Desa Purworejo Timur, Jamaludin Bahas, ketika dihubungi wartawan waktu.news, Senin (28/3/2022), kemarin mengatakan, bantuan beasiswa untuk anak kuliah adalah tanggungan Pemerintah Kabupaten.

“Kalau di Desa, tidak ada untuk mahasiswa. Sudah tercover semua oleh Kabupaten. Jadi proposalnya kasih masuk di Kesra, nanti Kesra turun, konfirmasi dengan Sangadi,” ucap Jamaludin.

Begitu pula dengan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Boltim, Imran Golonda. Ia juga mengungkapkan hal serupa.

“Oh, beasiswa di bagian Keseos. Kalau beasiswa anak asuh itu di sana,” sebut Imran, di ruang kerjanya.

Advertisement

Ketika ditanya alur dan mekanisme pengurusan bantuan pemerintah melalui Kartu Indonesia Pintar, Imran mengatakan, program tersebut berhubungan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

“Oh, berhubungan dengan Diknas itu,” sebutnya. (aah)

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button