IRAN – Iran akan kembali mengirim jemaah Umrah ke Arab Saudi setelah program tersebut dihentikan selama enam bulan.

Pada tahap pertama, sebanyak 18 ribu jemaah dijadwalkan berangkat, menurut laporan resmi Fars News Agency.

Wakil Kepala Hajj and Pilgrimage Organisation Iran untuk urusan Haji dan Umrah, Akbar Rezaei, mengatakan penerbangan pada tahap awal akan dilakukan dari sejumlah provinsi.

Iklan

Dalam skema tersebut, satu penerbangan dijadwalkan berangkat setiap lima hari menuju Arab Saudi.

Pendaftaran Umrah akan dimulai pada awal Syahrivar, bulan keenam dalam kalender Hijriah Matahari Iran yang dimulai pada akhir Agustus.

BACA JUGA
Setelah pendaftaran Umrah dimulai pada awal Syahrivar, artikel tentang batas waktu jemaah Umrah meninggalkan Arab Saudi mengulas ketentuan akhir bagi para peziarah.

Lima Juta Pemegang Voucher Masih Menunggu

Tahap pertama keberangkatan akan melibatkan 18 ribu jemaah.

Sementara itu, sekitar lima juta pemegang voucher pendaftaran Umrah saat ini masih menunggu kesempatan untuk berangkat.

Pada periode sebelumnya, sekitar 200 ribu warga Iran menjalankan Umrah dalam waktu kurang dari satu tahun.

Menjelang akhir tahun lalu, jumlah keberangkatan dari Iran menuju Arab Saudi disebut telah mencapai lebih dari 1.300 jemaah per hari.

BACA JUGA
Di tengah tingginya keberangkatan jemaah dari Iran, kebijakan Arab Saudi mengenai Umrah tanpa visa bagi penduduk UE, Inggris Raya, dan AS menawarkan konteks berbeda.

Namun, kelanjutan dan perluasan program kali ini masih bergantung pada penyelesaian pengaturan penerbangan oleh Hajj and Pilgrimage Organisation.

Ketersediaan valuta asing yang dibutuhkan untuk membiayai perjalanan juga menjadi faktor penting.

Sebagian biaya Umrah berkaitan dengan mata uang asing. Di sisi lain, keterbatasan penerbangan juga dapat memengaruhi jumlah keberangkatan berikutnya.

Karena itu, peningkatan kapasitas akan bergantung pada ketersediaan penerbangan sekaligus akses terhadap valuta asing.

Biaya Valuta Asing Jadi Perhatian

Pakar ekonomi Hamed Aslani menilai biaya valuta asing untuk perjalanan Umrah seharusnya dihitung menggunakan nilai tukar aktual.

Menurutnya, pemberian valuta asing dengan harga lebih murah akan memindahkan beban keuangan kepada pemerintah.

Pandangan berbeda disampaikan pengelola kelompok perjalanan ibadah, Ehsan Malekzadeh.

Ia menilai Haji dan Umrah tidak seharusnya diperlakukan seperti perjalanan biasa maupun wisata.

Menurut Malekzadeh, jemaah tidak semestinya menanggung seluruh biaya perjalanan berdasarkan nilai tukar pasar bebas.

BACA JUGA
Selain persoalan penerbangan dan valuta asing, Arab Saudi dijadwalkan membuka kembali penerbitan Visa Umrah 2025 pada 10 Juni 2025 bagi calon jemaah.

Ia meminta pemerintah bersama Hajj and Pilgrimage Organisation menyediakan valuta asing dengan nilai yang sesuai serta mengelola biaya agar harga tidak meningkat hingga menghalangi sebagian jemaah untuk berangkat.

Sejumlah ahli juga mengusulkan agar bank sentral Iran mengalokasikan bagian tertentu dari kebutuhan valuta asing sebelum setiap tahap keberangkatan Umrah.

Nilai tukar tersebut juga diusulkan tetap selama masa kontrak terkait.

Langkah itu dinilai dapat mencegah perubahan nilai mata uang langsung diteruskan ke harga paket perjalanan Umrah.

Hajj and Pilgrimage Organisation juga dapat mengonsolidasikan kontrak penerbangan dan layanan untuk menekan biaya valuta asing per jemaah.

Jumlah keberangkatan berikutnya dapat diperluas sejalan dengan ketersediaan penerbangan dan sumber valuta asing yang telah dipastikan.