Berita Boltim

Sampah Berserakan, Hiasi Dua Pantai di Boltim

Tutuyan – Salah satu pemuda di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, menyoroti sampah disepanjang pantai Desa Motongkad dan Motongkad Selatan.

Pasalnya, kehadiran sampah berserakan itu, seolah membantah citra negeri seribu danau yang terkenal dengan keindahan pesisir pantai dan bawah lautnya ini.

Menurut salah seorang pemuda Motongkad, Budiarto Mamonto, pencemaran yang merusak pemandangan tersebut dikarenakan adanya aktivitas pendulangan emas di pesisir pantai menggunakan mesin, tanpa memerhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Hal ini justru berbeda dengan keadaan pantai di desa-desa lain, disulap menjadi destinasi wisata. Sementara di Motongkad sendiri, malah terkesan menjadi sebuah tempat sampah.

“Kami sangat merindukan suasana pantai yang benar-benar pantai. bukan tempat sampah seperti hari ini kita lihat,” kata Budi, Senin (23/8/2021).

Bukan itu saja kata Budi, tak sedikit nelayan setempat yang terganggu, terutama hasil tangkapan mereka. Akibatnya, para ibu rumah tangga dirumah pun ikut merasakan dampaknya.

Berita Terkait: Pantai Tersakiti Bolsel Dengan Keunikan Wisata Underwaternya

“Situasi ini, membuat saya dan pemuda desa gelisah. Kami khawatir sampah yang dihasilkan dari aktivitas rakit pendulang emas (dompeng) Itu, benar-benar akan diwariskan kepada kami. Kami tidak mau diwarisi sampah,” tegas Budi.

Sepengetahuannya, aktivitas pendulangan emas dipantai itu memiliki penanggungjawab dan kabarnya terdapat uang iuran. Sayangnya, mengapa iuran tersebut tidak digunakan saja untuk menjaga kebersihan pantai.

“Yang kami inginkan, pantai Motongkad yang tercinta. Lingkungannya bisa terus terjaga, bersih dari sampah. Sifat aslinya sebagai pantai masih tetap terlihat, sekalipun dimanfaatkan sebagai tambang oleh masyarakat.

Kepala Desa Motongkad, Rahmat Mokoagow, mengatakan. Sampah itu berasal dari sungai yang dibawah arus dari hulu. Saat hujan tiba, jangan sampah kecil, batang kayu bersar pun dibawah arus dari hulu sampai hilir (muara), hingga terdampar dipantai.

“Oh, kalau rumput (sampah) itu dari sungai. Walaupun dibersihkan, begitu hujan, ada lagi. Kan dihutan itu macam-macam kayu,” kata Rahmat.

Baca Juga: Wisata Pantai Tanjung Dulang dengan Segudang Keindahannya

Mengenai sampah yang akan dihasilkan oleh aktivitas pendulangan emas, juga telah ia beri himbauan. Agar sampah disekitar pantai, menjadi tanggungjawab dari masing-masing pendulang.

“Sejak rakit itu ada, memang sampah tidak dibiarkan disitu, langsung bakar. Bahkan dari Dinas Kelautan, Polair, Polres sudah turun,” jelasnya.

Sebelumnya ungkap Rahmat, dia juga sempat memiliki rakit pendulang emas. Namun, telah rusak total akibat hantaman gelombang laut. (aah)

Redaksi Waktu

Berita yang masuk di Email, Whatapps dan Telegram Redaksi akan di Edit terlebih dahulu oleh Tim Editor Media Waktu.news kemudian di publish.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button